SHARE
Nurdin Halid (kiri) dan Setya Novanto, tetap kompak memimpin Partai Golkar.

Nama Setya Novanto, memang cukup sexy di dunia politik di Indonesia. Grafik prestasinya di perpolitikan bisa dibilang naik turun bak roller coaster. Sempat melejit menjadi Ketua DPR, namun juga sempat mundur karena menghormati putusan MKD (Mahkamah Kehormatan Dewan).

Akan tetapiu setahun kemudian, nama Setya Novanto kembali melonjak setelah sukses merebut kursi Ketua Umum Partai Golkar dan kembali menjadi Ketua DPR RI. Tentunya prestasinya tersebut membuat banyak pihak yang tidak suka padanya seakan ngiri.

Tak heran, nama Setya Novanto pun terus dijadikan bahan bidikan saat beberapa kasus besar korupsi menggema di negeri ini. Termasuk kasus korupsi proyek e-KTP, yang kasusnya kini tengah disidangkan di Pengadilan Tipikor, Jakarta.

Badai terpaan ini tak membuat Setya Novanto gamang. Bahkan dia mengaku blak-blakan tidak menerima sepeser pun fee untuk memperlancar proyek itu. “Saya sama sekali tidak menerima apa pun dalam proyek e-KTP,” kata Setya Novanto.

Partai Golkar juga menilai adanya kemungkinan dicatutnya nama Setya Novanto oleh aktor intelektual kasus dugaan korupsi Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP) sehingga tercantum dalam dakwaannya. Modusnya tentu bisa macam-macam mengingat namanya tergolong paling sexy di panggung politik nasional.

“Ya, bisa saja beliau dicatut namanya. Bisa saja ada orang yang mengatakan itu,” ujar Ketua Harian DPP Partai Golkar Nurdin Halid.

Adapun kemungkinan dicatutnya nama Novanto oleh pihak tak bertanggung jawab dalam perkara ini, lanjutnya, karena di dalam dakwaan itu tidak menjelaskan hal-hal yang mengindikasikan adanya dugaan kuat ketua umum partainya itu terlibat dalam kasus e-KTP.

“Kan, hingga sekarang tidak ada bukti dalam dakwaan yang menyatakan Pak Novanto terlibat. Hukum itu harus ada bukti,” katanya. Melihat arah dan perkembangan kasus ini, maka Setya Novanto pun yakin namanya akan tetap bersih dan terhindar dari badai politik yang kembali menerpanya.