SHARE

Jakarta – Dua masalah bullying pernah menghebohkan orang-orang sekian hari tempo hari. Ke-2 masalah itu yaitu masalah bullying sebagian siswi pada rekannya di Thamrin City serta bullying yang dikerjakan pada seseorang mahasiswa di Kampus Gunadarma, Depok.

Menurut Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, satu diantara survey yang dia dapatkan mengatakan, pada anak berumur 12-17 th., 84 % alami masalah bullying. Umumnya masalah bullying yang diketemukan yaitu cyber bullying.

” Ada satu diantara survey yang mengatakan kalau anak-anak di Indonesia usia 12-17 th. itu dapat sampai 84 % alami bullying. Pada tempat begini, nyatanya paling banyak cyber bullying, ” tutur Khofifah selesai acara Mukernas PPP di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta Utara, Jumat (21/7/2017).

” Efeknya dapat depresi, psikosomatik, bahkan juga ada yang bully suicide, ” katanya.

Karenanya, Khofifah mengimbau orangtua lakukan deteksi awal pada anak mereka apabila temukan perubahan sikap. Perubahan sikap itu diantaranya anaknya mendadak jadi pendiam, kurang percaya diri, serta introver.

” Padi tempat itu, lingkungan paling dekat, saya mohon dapat lakukan antisipasi bila ada perubahan-perubahan yg tidak seperti umum, ” ucapnya.

Untuk lingkungan sekolah, Khofifah memohon pihak sekolah tetaplah dapat memberi rasa aman, nyaman, serta situasi yang mengasyikkan untuk beberapa murid. Apabila nyatanya tidak bisa mendatangkan hal tersebut pada murid, sekolah itu butuh lakukan koreksi.

” Umpamanya 1 guru itu bertanggungjawab atas 10-13 murid. Jadi dengan personal mereka juga akan tahu ada perubahan sikap serta tingkah laku yg tidak seperti umumnya, ” kata Khofifah.

Karenanya, dalam lakukan sertifikasi guru, Khofifah memohon ada pakta integritas yang di tandatangani beberapa guru. Pakta integritas itu diisi pernyataan guru bertanggungjawab atas berapakah siswa yang mereka urus.

Baca Juga  Pelaku dan Korban Bully di Thamrin City, Begini 'Keakraban' Mereka

” Begitu, mereka ada lakukan koreksi serta pelajari serta miliki basic. Umpamanya kasih peringatan hingga ada sangsi bila memanglah ada pakta integritas yang perlu dipertanggungjawabkan oleh guru, ” katanya.