SHARE

INDONESIA sarat dengan mafia. Bahkan sudah lama ada tudingan, para mafia bermain di dalam lingkar kekuasaan. Semua sektor dikuasai oleh mafia. Maka, ada mafia migas, mafia tambang, dan sekarang ini mencuat kembali mafia beras, mafia garam. Ini bukan masalah baru. Tudingan adanya mafia beras dan mafia garam sudah dilontarkan sejak beberapa tahun lalu.

Akan tetapi memang baru kali ini terjadi, tudingan mafia beras dan mafia garam “bermain”berbarengan. Kelangkaan masalah garam yang terjadi saat ini bersamaan dengan kemungkinan adanya permainan yang tengah dijalankan oleh mafia beras, di mana beras oplosan disebut-sebut membanjiri pasaran, tak terkecuali kemungkinan adanya beras oplosan dari gudang Bulog.

Terkait dengan masalah garam, sudah sejak beberapa tahun belakangan ini disebutkan bahwa  petani garam dalam negeri selalu dirugikan atas beredarnya garam impor di pasar yang dilakukan oleh sindikat importir garam kelas kakap. Mereka disebut-sebut bernaung dalam kelompok 5 hingga 7 samurai garam. Mereka itulah yang menguasai produksi dan distribusi garam nasional, caranya adalah dengan berman di lingkaran Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.

Namun, sebagaimana tudingan terhadap keberadaan mafia atau samurai di sektor pangan lainnya, termasuk mafia gula, identitas para samurai ini tak pernah bisa diketahui. Yang jelas, salah satu cara yang paling sering dimainkan oleh mereka adalah dengan melakukan impor, membanjiri pasaran dengan produk impor.

Hasil gambar untuk ilustrasi mafia garam

Importir-importir besar inilah yang biasanya langsung disebut dengan samurai garam. Namun, siapa mereka, mungkin hanya Kementerian Perdagangan yang memiliki datanya. Selagi mafia garam masih menguasai pasar di Indonesia, maka para petani garam di tanah air akan terus kesulitan memasarkan produknya.

Ulah mafia garam pastinya sangat merugikan petani. Saat  petani panen garam, para importir ini langsung menggelontorkan garam impor ke pasar. Nah, tidak ada ceruk bagi para petani.

Baca Juga  Kapolri Ingatkan, Kejahatan Pangan Apapun Harus Dihentikan, Termasuk Mafia Beras

Ada pandangan bahwa para mafia atau kartel dari bahan pangan pokok atau utama seperti beras, gula, garam, sebenarnya diciptakan oleh pemerintah sendiri.  Mafia atau kartel hampir semua di create sama negara. Karena, negara yang menciptakan persekongkolan. Misalnya, menetapkan kuota. Nah, kuota yang menciptakan pemerintah. Impotir-pun yang menciptakan pemerintah.

Di masa lalu, dalam masalah garam, pemerintah dengan sengaja menciptakan persaingan antara petani garam dengan PT Garam. Tidak semestinya PT Garam sebagai perusahaan negara bersaing dengan rakyat. Biang keladi dari jatuhnya harga petani adalah karena negara dihadap-hadapkan dengan rakyatnya sendiri.

Gambar terkait

Pemerintah selaku pemilik saham di perusahaan plat merah harus mengubah model bisnis PT Garam. Jika selama ini masih menggarap industri hulu, perusahaan itu nantinya diarahkan bermain di industri hilir seperti pemurnian garam. Dengan demikian, seharusnya  PT Garam menampung produk garam milik petambak dan menstabilkan harga. Seperti yang selama ini dilakukan oleh Bulog dalam menangani masalah beras.

Sudah lama Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyelidiki modus praktik kartel industri garam di Tanah Air. KPPU menduga, pelaku kartel garam meraup keuntungan hingga Rp 2,25 triliun per tahun. Impor garam 2,25 juta ton per tahun, marginnya Rp 1.000 per kg, jadi margin totalnya Rp 2,25 triliun. Itu bukan nilai impornya, tapi marginnya saja, begitu data yang disampaikan oleh Ketua KPPU, Syarkawi Rauf.

Syarkawi mengatakan selama ini kartel garam terjadi pada garam impor, garam lokal, dan gabungan keduanya. Modusnya adalah dengan membeli garam impor atau garam lokal dari petani dengan harga rendah untuk kemudian dijual kembali dengan selisih harga yang jauh lebih mahal.