SHARE

Selama ini masyarakat meyakini adanya keterlibatan langsung Susilo Bambang Yudhoyono dan para petinggi partai Demokrat lainnya dalam pengadaan Kartu Tanda Penduduk elektronik.

SBY dan kroni-kroninya di kelompok Cikeas sangat intens untuk ikut menggarap proyek e-KTP tersebut hingga terealisasi.

Gamawan Fauzi, yang menjabat Mendagri saat proyek pengadaan e-KTP itu diterapkan, juga menjadi bagian dari gurita Cikeas dalam menancapkan cengkramannya pada proyek-proyek yang menguntungkan mereka.

nasiku

Adanya peran dari SBY dan kelompok Cikeas itulah yang disampaikan kembali oleh Anas Urbaningrum saat memberikan kesaksiannya pada lanjutan kasus dugaan korupsi e-KTP di PN Tipikor Jakarta, Kamis (6/4) pagi.

Dijabarkan oleh Anas, SBY selalu pemimpin tertinggi Partai Demokrat memberikan atensi khusus selama proses pembahasan dan pengadaan proyek e-KTP tersebut.

Dari pengakuan Anas, ada arahan-arahan dari SBY selaku Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat.

SBY meminta Anas sebagai Ketua Fraksi Partai Demokrat mendukung proyek tersebut.

nanaskujuk
Anas saat memberikan kesaksian

Saat itu, selain sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, SBY juga menjabat Presiden RI.

“Memang ada arahan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, presiden, setiap kebijakan pemerintah harus didukung Fraksi Demokrat dan partai koalisi,” ujar Anas.

Anas mengatakan, yang ia ketahui, program penerapan e-KTP merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang paling disorot saat itu.

Proyek ini diperlukan untuk memperbaiki administrasi kependudukan nasional, sehingga perlu modernisasi.

“Itu yang jadi pengetahuan saya soal kebijakan ini. Pengadaannya saya tidak tahu,” kata Anas.

Anas mengaku bahwa ia tak pernah mengikuti pembahasan pengadaan proyek ini.

Kesaksian Gamawan Fauzi, langsung dibantah M. Nazaruddin.
Gamawan Fauzi, salah satu kesayangan SBY

Mengenai surat dakwaan korupsi yang menyebutkan dirinya ikut menerima uang dari proyek e-KTP, Anas membantahnya.

Baca Juga  Kasus E-KPK Identik dengan Kasus Daging Sapi, Ada Usulan Hak Angket

“Itu tidak terlepas dari tiga hal, fiksi fantasi fitnah. Maaf kalau terkait saya, kalau terkait (orang) lain saya tidak tahu,” Anas menegaskan.

Kata Anas, apabila benar dia menerima uang di DPR dan bertemu dengan pengusaha Andi Agustinus atau Andi Narogong, pastilah terekam dalam CCTV yang terpasang di gedung DPR RI, termasuk di ruangannya.

“Di DPR itu ada CCTV. Saya kira dengan teknologi bisa dilacak apa betul ada pertemuan di ruang siapa, jam berapa,” terang Anas.

1 COMMENT