SHARE

Semarang – Penjualan senjata api ilegal yang dikerjakan lewat sosial media berhasil disibak Direktorat Reserse Kriminil Umum (Ditreskrimum) Polda Jawa Tengah. Sejumlah 18 senjata api serta 28 airsoft gun diambil alih dalam pengungkapan itu.

Kapolda Jawa Tengah, Irjen (Pol) Condro Kirono, menyebutkan pengungkapan masalah dimulai laporan orang-orang sampai dikerjakan penyelidikan pada pengiriman satu paket lewat layanan ekspedisi bln. Mei 2017 kemarin.

” Tanggal 15 Mei dikerjakan pendalaman serta penangkapan pertama pada tersangka berinisial ES (33) di Solo, ” kata Condro dalam tayangan pers di Lapangan Bhayangkara Akpol selesai Upacara serta Defile HUT Bhayangkara ke-71, Senin (10/7/2017).

Dari tersangka ES diambil alih pistol saku high standar derringer DM-101 kaliber 22 magnum serta 10 butir amunisi kaliber 22 LR. Sesudah diperkembang, di tangkap tersangka berinisial RH (44) di Cirebon tanggal 22 Mei 2017 yang bertindak pesan senjata api dari tersangka berinisial P (30) yang dipesan ES. Selanjutnya tanggal 25 Mei 2017 di tangkap P di Jakarta Timur.

Condro menerangkan penjualan senjata api ilegal itu dikerjakan tersembunyi dengan memakai sosial media seperti Whatsapp, blackberry messenger, serta facebook.

” Pemesanannya lewat on-line, pembayarannya ditransfer, ” tandas Condro.

Harga yang di tawarkan P cukup beragam yakni untuk type Pen Gun Rp 1, 5 juta sampai Rp 20 juta. Senjata organik type Glock seharga Rp 70 juta. Aada juga yang seharga Rp 120 juta yakni type Makarov. Penjual dapat juga memodifikasi airsoft gun jadi berpeluru tajam.

” Mereka telah lakukan sistem penjualan senjata api itu mulai sejak th. 2006 lantas, ” lanjut Condro.

Beragam tanda bukti diamankan dari 3 tersangka itu diantaranya 18 senpi laras panjang termasuk juga 2 pen gun, lalu 28 air soft gun, 984 butir peluru beragam ukuran, serta buku tabungan. Beberapa tersangka dijerat Pasal 1 Ayat (1) Undang-undang Darurat RI Nomor 12 Th. 1951 mengenai penguasaan senjata api dengan ancaman hukuman maksimum 12 th..