SHARE

Yangon – Dari sisi fisik, bangunan berupa aksara I itu terlihat menonjol karna terbuat dari beton, berlantai keramik, beratap serta bercat cerah diantara gubuk-gubuk berdinding bambu serta beratap daun dengan tambalan terpal.

Di dalamnya ada tiga ruangan dengan jejeran bangku serta kursi kayu, papan catat dimuka ruangan, sesaat di sudut ada kursi serta bangku tunggal. Mulai jam 08. 00 saat setempat sampai jam 15. 00 saat setempat gedung itu dipenuhi anak-anak.

” Ada 395 siswa di sekolah ini. Kita butuh menaikkan guru namun pemerintah cuma sediakan empat guru. Bagaimana kami dapat mengajar dengan baik? Kami mengajar satu hari penuh, kelas pagi mulai jam 08. 00 saat setempat sampai jam 12. 00 saat setempat. Kelas siang mulai jam 13. 00 saat setempat sampai jam 15. 00 saat setempat, ” kata salah seseorang guru M. Amin.

Tersebut deskripsi sekolah pertolongan dari rakyat Indonesia, yang disalurkan oleh instansi kemanusiaan Pos Keadilan Perduli Umat (PKPU), untuk lokasi perseteruan Rakhine. Sekolah diresmikan oleh Menteri Luar Negeri Indonesia, Retno Marsudi, pada Januari 2017.

Namun satu ruangan kelas nyatanya telah bocor hingga tidak dipakai sekali lagi.

Sepanjang beberapa puluh th., negara sisi Myanmar dibagian utara itu sudah alami perseteruan sektarian pada sebagian besar etnik Rakhine yang beragama Buddha serta grup minoritas Rohingya yang biasanya Muslim.

Saat otoritas Myanmar melarang LSM internasional masuk ke beberapa daerah yang terserang efek operasi militer di Rakhine, sebagian LSM Indonesia telah beroperasi disana mulai sejak 2012, termasuk juga PKPU.

Ide awalannya, sekolah ini digunakan oleh siswa lintasetnik, seperti etnik Rakhine, Chin serta Rohingya hingga berlangsung pembauran yang menghadap ke perdamaian di tingkat generasi muda.

Baca Juga  Tanda Permusuhan 'Masih Ada', Konflik Sektarian di Rakhine

Tetapi mungkin saja itu tinggal keinginan untuk step ini sebab sekolah pertolongan Indonesia di Desa Hla Ma Chay, di pinggir ibu kota Rakhine, Sittwe ini, cuma dipakai oleh siswa-siswa Rohingya.

‘Dua versus nama serupa Orba’
Empat gurunya yaitu orang Rohingya, kepala sekolahnya orang Rakhine namun cuma datang ke sekolah pada acara-acara spesial. Mereka digaji oleh pemerintah negara sisi Rakhine.

” Mereka semuanya siswa Rohingya, tak ada siswa dari komune Rakhine. Ada kampung di dekat sini yang ditempati oleh beberapa orang Rakhine, namun siswa yang kami didik yaitu anak-anak Rohingya. Tak ada siswa etnik Rakhine, ” terang M Amin.

Seperti beberapa orang Rohingya biasanya di Myanmar, ia miliki dua nama : M Amin nama Rohingya serta Maung Chit Khin, nama Myanmar. Keadaan ini sama juga dengan jaman Orde Baru di Indonesia saat warga negara dari keturunan Cina lazimnya mengambil nama setempat.

Saya juga tanyakanlah mengapa tak ada siswa dari etnik beda di sekolahnya walau sebenarnya di dekat lingkungan sekolah itu ada desa yang ditempati komune beda.

” Mengapa? Saya tidak paham. Kami mengajar anak-anak Rohingya. Anak-anak dari etnik Rakhine belajar di sekolah-sekolah beda. Sebelumnya kerusuhan, di sekolah yang lama sebelumnya dibuat gedung baru ini, gurunya yaitu orang Rakhine, ” jawab M Amin.

” Namun sesudah kekerasan berlangsung, beberapa guru tidak datang sekali lagi untuk mengajar anak-anak Rohingya ini. Saya tidak paham mengapa mereka tidak mengajar siswa Rohingya sekali lagi, namun saya fikir mereka membenci beberapa orang Muslim Rohingya. ”

Seseorang pengamat menyebutkan ada jalan ke luar atas sentimen negatif pada grup Rohingya -yang oleh Myanmar tidak dipandang jadi warga negara namun jadi pendatang dari Bangladesh hingga di panggil ‘orang-orang Bengali atau beberapa orang Muslim’.

Baca Juga  Di Bangladesh, Pengungsi Rohingya Berharap Pindah ke Malaysia

Cendekiawan asal Rakhine, Aung Myo Oo, memiliki pendapat dibutuhkan kemauan baik dari beberapa grup yang bertentangan di orang-orang untuk mengatasinya.

” Di tataran lapangan, kita mesti mengukur tingkat toleransi baik dari grup Rakhine ataupun komune beda serta lihat hal sebagai persamaan untuk hidup berdampingan. Selanjutnya mereka hidup diatas tanah yang sama walau permukimannya terpisah-pisah. Mereka minum air dari sumber yang sama, ” tuturnya pada BBC Indonesia.

Rekonsiliasi lewat pendidikan?
Sayangnya, menurut Aung Myo Oo, untuk step saat ini mereka nampaknya belum juga siap berdamai karna belum juga menjangkau pijakan dengan mengenai bagaimana juga akan merampungkan perseteruan agama, ekonomi serta kehidupan sosial.

Di bagian ekonomi, umpamanya, komune Rakhine menuding Rohingya mencaplok tanah leluhurnya, sedang grup Rohingya bersikukuh Rakhine yaitu tanah leluhurnya juga.

Mungkin saja, terang Aung Myo Oo, kemelut bisa ditekan bila alur fikir generasi muda mulai dirubah menghadap ke rekonsiliasi, hidup berdampingan, serta sama-sama terima.

Namun nampaknya hal tersebut tidak tercermin dalam kurikulum yang dibarengi anak-anak di sekolah di Hla Ma Chay, yang ikuti kurikulum nasional Myanmar, termasuk juga mata pelajaran harus geografi, bhs Myanmar, serta pendidikan kewiraan yang mengajarkan kecintaan pada negara.

Duta Besar Indonesia untuk Myanmar, Ito Sumardi, yang ikut bertindak dalam pendirian sekolah pertolongan Indonesia, tidak pedulikan asumsi kalau sekolah itu tidak inklusif serta tidak berhasil jadi titian perdamaian di lokasi perseteruan.

” Kepala sekolahnya beragama Buddha, murid-muridnya umumnya orang Muslim. Mengapa komune Buddha disana kurang memakai? Karna memanglah sekolah dibuat ditempat yang sebagian besar warganya yaitu orang Muslim, ” terang Dubes Ito Sumardi.

Tetapi kepala sekolah yang dijelaskan oleh Duta Besar Ito Sumardi cuma datang dalam acara-acara spesial hingga tidak ikut serta segera dalam aktivitas belajar mengajar sehari-hari.

Baca Juga  Anak Muslim Rohingya Kehilangan Orang Tuanya

Ito Sumardi yakini pendidikan serta beberapa sarana beda yang direncanakan juga akan dibuat selanjutnya akan merangkul semuanya grup orang-orang.

” Jadi kita bila lihat pertolongan dari Indonesia yang di Sittwe itu memanglah kondisinya belum juga kondusif, lalu hasrat orang-orang di situ untuk sekolah masih tetap rendah. Namun itu yaitu satu diantara usaha untuk bagaimana, lewat pendidikan, lewat pasar yang direncanakan, lewat rumah sakit, di situlah dapat berkumpul semuanya komune karna mereka pada umumnya membutuhkannya. ”

Bagaimanapun, beberapa siswa dari grup Rohingya, mengharapkan mereka bisa menimba pengetahuan sebanyak-banyaknya dari sekolah SD ini untuk wujudkan harapan mereka.

” Saya menginginkan jadi insinyur sesudah lulus sekolah, ” ungkap Ebdullah, 11.

” Saya menginginkan jadi guru, ” kata Um Habiba, 10.

Mereka mungkin saja masih tetap sangat belia untuk mengerti kalau sesudah lulus dari sekolah ini, jadi akses ke pendidikan yang lebih tinggi begitu terbatas untuk mereka.

Soalnya, grup etnik mereka tidak masuk dalam daftar 135 etnik yang resmi disadari di Myanmar hingga mereka tidak bisa masuk ke sekolah-sekolah negeri. Mengenai untuk meneruskan ke pendidikan tinggi swasta juga akan terhalang oleh cost.

Untuk sesaat berikut fasilitas pendidikan resmi di Desa Hla Ma Chay sebagai tumpuan untuk 1. 700 masyarakat Rohingya itu.