SHARE

Batas kultur politik lokasi di Pilkada Jawa timur th. depan diperkirakan juga akan mencair. Alur politik lama yang mendikotomi basis massa nasionalis serta agamis tidak keluar di hasil survey pilkada Jawa timur yang di gelar The Initiative Institute pada 15 sampai 30 Juni 2017 kemarin.

CEO The Initiative Institute, Airlangga Pribadi menerangkan, dalam survey elektabilitas cagub serta cawagub Jawa timur itu, banyak diketemukan pemilih dari kelompok religius yang menjatuhkan pilihan politiknya pada sosok nasionalis.

” Demikian sebaliknya, kelompok nasionalis banyak pula yang pilih calon dari kelompok religius, ” tuturnya waktu melaunching hasil surveinya di Surabaya, Kamis (20/7/2017).

Dia mencontohkan, Saifullah Yusuf, Khofifah Indar Parawansah, serta Abdullah Azwar Anas yang notabene representasi Nahdatul Ulama serta kelompok santri, nyatanya banyak diambil di lokasi Mataraman, lokasi yang sampai kini dimaksud basis massa nasionalis.

” Demikian sebaliknya, Risma yang mewakili profil nasionalis, banyak disukai kelompok santri di lokasi tapal kuda, yang di kenal markas golongan santri, ” ucapnya.

Menurut Airlangga, mencairnya dikotomi politik lokasi itu diantaranya karna efek masifnya penguatan wacana nasionalisme serta kebangsaan.

” Pemilih telah tak akan pilih calon karna persamaan lokasi atau ideologi, namun telah berbasiskan kemampuan, ini bagus, ” kata dia.

Wilaya kultur politik Jawa timur terdiri jadi bagian-bagian lokasi, yaitu. Tapal Kuda (Pasuruan ke timur hingga Banyuwangi), Mataraman (Jawa timur sisi barat serta selatan), Arek (Surabaya serta sekelilingnya), Madura, serta Pantai utara.