SHARE
Nama Gamawan Fauzi kini lekat dengan kasus e-KTP. Ia menjadi salah satu pendukung kuat ketika program kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) ini mulai diluncurkan di tahun 2010. Sebagai Menteri Dalam Negeri dan salah satu orang kepercayaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kala itu, Gamawan Fauzi disebutkan memiliki keleluasaan untuk menggolkan program tersebut.
sesik
Dr. H.Gamawan Fauzi, SH, MM, gelar Datuk Rajo Nan Sati–sesungguhnya adalah salah satu tokoh Sumatera Barat yang disegani. Sosok kelahiran Solok, 9 November 1957 ini, antara lain tercatat sebagai penerima tiga penghargaan penting yang berhubungan dengan antikorupsi, yakni Bung Hatta Award (2004), Bintang Mahaputra Utama (2009), dan Charta Politika Award 2010 untuk kategori pimpinan kementerian/lembaga non pemerintah berpengaruh di media.
Mungkin juga tak ada yang tak mengenal Gamawan Fauzi di Sumatera Barat. Ia menjadi penguasa kota Solok, sebagai bupati selama dua periode, 1995-2005. Suksesnya membangun Solok mengantarnya merebut kursi Gubernur Sumbar untuk periode 2005-2009. Setelah itu, kita tahu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberinya jabatan menteri dalam negeri pada Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

PROFIL Menteri Dalam Negeri (MENDAGRI) : Gamawan Fauzi. FOTO SI/YUDISTIRO PRANOTO

Kini, dibelit kasus e-KTP, Gamawan Fauzi terjerembab. Kendati demikian, tak sedikit orang yang meragukannya terlibat dalam pusaran kasus dugaan korupsi proyek e-KTP tersebut. Ia tokoh antikorupsi, penerima Bung Hatta Award, koq bisa terlibat?
Gamawan Fauzi mencoba mempertahankan kredibilitasnya habis-habisan. Ia mati-matian menyanggah tuduhan menerima aliran dana dari proyek e-KTP tersebut.
Bahkan, ia berani bersumpa. Ia berani mengutuk dirinya sendiri, seandainya memang menerima kucuran dana dari proyek e-KTP itu.
Dalam persidangan kedua kasus ini, Kamis (16/3) lalu di PN Tipikor Jakarta, Gamawan Fauzi membantah ikut menerima uang korupsi proyek e-KTP itu.
fauzi1
Tim jaksa penuntut umum dari KPK mendakwa Gamawan Fauzi menerima 2 juta dolar AS dari Andi Narogong melalui Afdal Noverman pada Maret 2011, 2,5 juta dolas AS dari Andi Narogong melalui Azmin Aulia, Juni 2011, dan menerima Rp 50 juta melalui Sugiharto untuk kunjungan kerja di lima kota.
Menjawab pertanyaan hakim ketua Jhon Halasan Butar Butar, “Terkait program e-KTP, apakah saudara pernah menerima sesuatu”, Gamawan Fauzi membantahnya.
Ia lalu menyatakan, seperti bersumpaj, “Demi Allah, kalau mengkhianati bangsa ini menerima satu rupiah pun, saya minta didoakan seluruh rakyat Indonesia, saya dikutuk Allah SWT.”
Dalam perkembangan proses pemeriksaan, Gamawan Fauzi kemudian juga mengatakan bahwa ia pernah meminjam uang Rp 1,5 miliar dari  seorang pedagang Tanah Abang. “Saya mau buat kebun dan beternak, juga buat operasi kanker di Singapura.”
fauzi4
Pernyataan-pernyataan Gamawan Fauzi ditanggapi beragam oleh masyarakat, meski umumnya menghujat, sebagaimana terekam di berbagai media online.
“Terlalu banyak sumpah2…nanti seperti gak jauh seperti bang Anas,” komentar netizen dengan akun Mochidull @mochidull.
 
Akun juned @nurjuned menulis, “Kutukan sih nggak ada dampak nya bagi koruptor… Harusnya dimiskinkan si Gamawan ini”.
“Semoga dikabulkan doanya” tulis akun Exenes @polytango. “Kenapa gak sekalian bilang saya merasa dizolimi, tulis akun Barcode Kwa @barcode212 .
“Iya saya doakan terkabul,”tulis akun Asbun2015 @asbun2015.
Baca Juga  Keprihatinan Mendalam Untuk Novel Baswedan