SHARE

DALAM politik itu ada semacam fatsoen yang sepertinya sudah difahami maknanya oleh publik. Yakni, tak ada teman yang kekal, yang ada adalah kepentingan yang abadi.

Bisa jadi itu adalah sebuah dalil, yang kebenarannya bisa diperdebatkan. Bukan sebuah adagium, dengan justifikasi yang tak perlu diragukan lagi.

Sehubungan dengan itu, menarik mencermati interaksi atau dinamika yang terjadi pasca penetapan Ketua DPR sekaligus Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dugaan keterkaiatannya pada kasus indikasi korupsi di proyek Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik atau e-KTP, Senin (17/7) lalu.

Hasil gambar untuk foto-foto setya novanto dan rapat konsolidasi partai golkar
Rapat pleno Partai Golkar memutuskan Setya Novanto tetap sebagai ketua umm partai; tidak ada Munaslub; dan Golkar tetap mempertahankan komitmennya mendukung pencalonan Joko Widodo di Pilpres 2019.

Setelah pengumuman resmi KPK oleh Agus Rahardjo, sang ketua, yang didampingi oleh salah satu wakil ketua, Saut Situmorang dan jubir KPK Febry Diansyah, hampir sepanjang malam masyarakat dijejali dengan update seputar penetapan tersangka untuk Setya Novanto ini.

Ada kabar miring, namun tak kurang pula kabar dengan nuansa simpati dan empati.

Hasil gambar untuk foto-foto setya novanto dan rapat konsolidasi partai golkar
Rapat pimpinan DPR pada Selasa (18/7) memutuskan Setya Novanto tetap menjabat sebagai Ketua DPR. Indahnya kebersamaan.

Mereka yang selama ini berseberangan dengan Setya Novanto seolah-olah menemukan momentum yang tepat, dengan langsung melontarkan nada minor. Inilah tanda-tanda politisi yang mencari keuntungan untuk sendiri.

Dari internal Partai Golkar, sudah ada pernyataan resmi, tak terkecuali seluruh kader Golkar yang berada di parlemen.

Disampaikan bahwa status tersangka Setya Novanto tidak akan mengubah posisi politik Partai Golkar yang mendukung Pemerintahan Jokowi & Jk.

“Dengan ditetapkannya Setya Novanto sebagai tersangka, tidak mempengaruhi posisi politik partai golkar yaitu memberikan dukungan sepenuhnya kepada pemerintah Jokowi & JK,” demikian antara lain disampailan Idrus Marham, Sekjen Partai Golkar, seusai rapat konsolidasi DPP Partai Golkar, Selasa (18/7).

Partai Golkar, seru Idrus, tidak akan mengubah keputusan Rapat Pimpinan Nasional (rapimnas) yang mencalonkan Jokowi sebagai Presiden pada Pemilu 2019 yang akan datang.

Baca Juga  Negara Harus Bantu Pembiayaan Parpol

Hasil gambar untuk foto-foto setya novanto dan rapat konsolidasi partai golkar

Selain itu, Fraksi Partai Golkar di DPR diharapkan untuk memberikan dukungan kepada kebijakan pemerintah yang ada, termasuk perppu-perppu, seperti misalnya perppu tentang ormas.

“Walaupun tersangka adalah Ketua Umum Partai Golkar, tetapi tidak mengganggu jalan kerja partai,” janji Idrus Marham.

Dalam pandangan publik itu adalah sebuah kedewasaan sikap yang luar biasa dari Partai Golkar.

Dalam pemahaman luas publik, tidak ada kekecewaan berlebih dari Partai Golkar atas penetapan tersangka pimpinan tertingginya tersebut.

Partai Golkar tidak harus mengubah sikapnya sebagai anggota koalisi pendukung pemerintah.

Hasil gambar untuk sikap jokowi terhadap penetapan tersangka setya novanto
Ketua DPR yang juga Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sangat dekat dengan Presiden Joko Widodo. Keduanya sangat sering bertemu, baik dalam forum resmi atau tidak resmi.

Keputusan Partai Golkar untuk tetap dan akan terus mendukung pemerintahan Jokowi & JK, dan mempertahankan komitmennya untuk tetap juga mengusung Jokowi di Pilpres 2019, meskipun Setya Novanto sudah ditetapkan KPK sebagai tersangka, layak diapresiasi.

Tentunya juga oleh Presiden Joko Widodo.