SHARE
Anas Urbaningrum (kiri) tampil hipokrit, sementara Setya Novanto santun dan membumi.

Saat menjalani persidangan sebagai saksi dalam kasus e-KTP di pengadilan Tipikor, Jakarta, Kamis (6/4/2017) dua tokoh memiliki penampilan yang berbeda.  Anas Urbaningrum, hanya mengenakan baju putih dan celana pajng hitam.  Sementara Setya Novanto, memakai kemeja batik coklat dengan celana panjang hitam.

Saat ditanya oleh majelis hakim, Anas seperti biasa, menampilkan diri sebagai sosok hipokrit dihadapan mereka. Ia meminta jika ada kerugian negara Rp 2,3 triliun dari pengadaan KTP elektronik (e-KTP) tahun anggaran 2011-2012, maka PPATK harus turun tangan membantu KPK.

Anas Urbaningrum berpendapat jika uang Rp 2,3 triliun tersebut harus dicari kemana perginya. Anas  juga meminta agar Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) membantu Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menelusuri aliran uang tersebut.

“Harus dicari uang itu kemana. Sekali lagi karena ini uang besar, saya di forum terhormat seperti ini mohon betul agar PPATK membantu tugas KPK,” kata Anas.

Selain mencari aliran uang tersebut, Anas Urbaningrum juga meminta agar para pelaku penjahat anggaran tersebut ditelusuri. “Siapa yang terima, siapa yang beri. Kalau ini kejahatan siapa sesungguhnya penjahatnya, harus dicari. Tapi dengan fakta-fakta yang benar, bukan spekulasi bukan sumber informasi tidak bisa dipertanggungjawabkan dan sumber tidak kredibel,” ungkap bekas ketua umum dan ketua fraksi Partai Demokrat itu.

Sementara jawaban Setya Novanto lebih membumi. Dia hanya mempercayakan penanganan kasus tersebut kepada KPK. “Ini kami percayakan kepada KPK. Mudah-mudahan bisa selesai dan apapun keputusannya. Terimakasih,” katanya.

Satu hal yang pasti, Setya Novanto sudah memberikan keterangan dengan jujur, agar KPK bisa menuntaskan kasus ini tanpa ada gangguan. Sebaliknya Anas malah membantah semua tuduhan yang mengalir kepadanya sembari menunjuk orang lain yang lebih bersalah atas kasus ini.Sikap hiprokrit Anas ini tentu akan menjadi catatan sendiri bagi majelis hakim.

Baca Juga  2 Terdakwa Dihukum Bayar Uang Pengganti Usai Terbukti Korupsi e-KTP