SHARE
Fahri Hamzah kembali sesalkan penyidik KPK yang bertindak tak profesional dalam penyidikan kasus e-KTP.

Dalam sidang mega korupsi e-KTP pada Kamis (23/7/2017) di Pengadilan Tindak Pindana Korupsi (Tipikor), akhirnya terungkap banyak kejanggalan yang terjadi selama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penyidikan. Salah satunya seperti yang dialami Miryam Haryani. Mantan anggota Komisi DPR RI 209-2014, yang kini beralih menjadi anggota Komisi V DPR RI 2014-2019.

Fahri juga menyebut keterangan Miryam yang mengaku diancam penyidik KPK sebagai sesuatu yang wajar. Menurutnya memang ada intimidasi dalam pemeriksaan di KPK selama ini. Salah satunya, saat para saksi tidak didampingi oleh pengacara atau kuasa hukum mereka.

“Wajar kalau Bu Miryam diperlakukan seperti itu, memang orang bicara itu diintimidasi makanya KPK nggak mau pakai lawyer. Karena dia mau mendominasi omongannya, Anda begini begitu. Itu terjadi di sana, kesaksian ini banyak, dari anggota DPR dan bukan. Semuanya, kalau bisa kita bikin posko pengaduan orang diintimidasi KPK,” tutur Fahri.

Sebelumnya mantan anggota Komisi II DPR dari Fraksi Hanura Miryam Haryani mencabut semua keterangannya dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dalam sidang kasus korupsi e-KTP. Sambil menangis di ruang sidang Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi (PN Tipikor) Jakarta, Miryam mengaku diancam tiga  penyidik KPK ketika proses penyidikan.

“Saya diancam sama penyidik, tiga orang, pakai kata-kata,” ucap Miryam dalam sidang di PN Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Kamis (23/3/2017).

“Waktu saya dipanggil, ada tiga orang, satu Pak Novel, satu namanya Pak Damanik. Ini tahun 2010 itu mestinya saya sudah ditangkap, kata Pak Novel begitu. Saya ditekan terus. Saya terekam sekali kejadian waktu diperiksa waktu saya di sini. Sampai dibilang ibu saya mau dipanggil, saya nggak mau Pak,” sebut Miryam.

Baca Juga  KPK: Datanya Tak Akurat, Terkait Pencegahan Korupsi yang Disebut Romli Gagal

Ancaman dalam bentuk psikis seperti ini menunjukkan ketidakprofesionalan para penyidik. Mereka biasa nya melakukan hal itu jika menemui jalan buntu mengenai skenario yang sudah mereka rancang sebelumnya dalam menangani sebuah kasus.

Framing  kasus seperti ini yang membuat banyak saksi merasa tidak nyaman jika diperiksa oleh KPK, sehingga banyak memunculkan keterangan yang seolah-olah benar. Tak heran kini pun KPK seperti kesulitan mengungkap kasus ini karena berbagai bukti yang mereka ajukan hanya kesaksian dari para saksi yang diperoleh dalam kondisi tertekan.