SHARE
Andi Narogong, tokoh kunci dalam kasus e-KTP.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyatakan telah mengetahui darimana asal uang yang digunakan pengusana Andi Agustinus alias Andi Narogong. Ia diduga menyuap para pejabat Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan juga puluhan anggota dewan dalam kasus dugaan korupsi program Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP).

Dalam surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum KPK pada mantan Dirjen Dukcapil Kemendagri Irman dan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Sugiharto, dalam kasus korupsi e-KTP, Andi Narogong berkedudukan sebagai seorang pengusaha. Ia ditunjuk untuk mengerjakan proyek tersebut oleh Gamawan Fauzi.

Hanya saja, KPK belum mau mengungkapkan siapa “penyandang dana” yang telah menyediakan duit sebesar Rp2,3 triliun itu kepada Andi Narogong untuk menyuap itu. “Saya tidak bisa kemukakan tapi kami mengetahui,” kata Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif.

laode
Laode Syarif

 

Syarif memang masih menutup rapat mengenai informasi tersebut dengan alasan informasi tersebut masih harus ditindaklanjuti dalam proses penyidikan. “Saya tidak bisa kemukakan soal informasi yang masih dalam proses,” tutur Syarif.

Dana “talangan” yang dikeluarkan Andi memang cukup fantastis. Sebelum ia mendapat pembayaran dari proyek e-KTP, Andi sudah membagi-bagikan uang baik kepada para anggota dewan maupun pejabat Kemendagri.

Mantan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini pun mengakui mendapat uang dari Andi Narogong sebesar US$200 ribu. “Setelah Irman baru Andi Narogong, 2013 US$200 ribu,” kata Diah saat bersaksi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor), Jakarta, Kamis (16/3) lalu.

Namun dalam dakwaan Jaksa KPK, pemberian itu terealisasi pada 2012. Selain pejabat Kemendagri, dalam surat dakwaan juga disebut pembagian uang kepada anggota dewan dengan total Rp240 miliar.

mawan
Gamawan Fauzi

 

Memang menjadi pertanyaan tersendiri darimana asal muasal uang yang digunakan Andi untuk memberikan suap kepada anggota dewan dan pejabat Kemendagri. Dari informasi yang diperoleh Nasionalisme.net,  Andi memang tidak sendirian. Ia diduga dibantu donatur dari pihak-pihak tertentu.

Baca Juga  Nazaruddin Bantah Adanya Peran Setya Novanto dalam Kasus e-KTP

Andi diketahui merupakan pengendali PT Lautan Makmur Perkasa dan PT Adhitama Mitra Kencana Indonesia yang berlokasi di Pertokoan Graha Mas, Jalan Fatmawati, Jakarta Selatan. Namun namanya tidak tertera dalam struktur perusahaan tersebut karena diwakili adiknya, Vidi Gunawan, yang menjabat sebagai Direktur Utama di PT Adhitama.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyebut apa yang dilakukan oleh Andi ini terbilang cukup nekat. Pasalnya pembagian uang dilakukan sebelum dana proyek e-KTP cair ke tangan para pemenang tender.

fahrioye
Fahri Hamzah

 

Menurut Fahri, proyek pengadaan e-KTP ini terjadi untuk Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara pada 2011. Pidato anggaran itu diputuskan terjadi pada 16 Agustus 2010. Nah pemberian suap sudah dilakukan sejak September-Oktober 2010. “Ini ada orang gila berani ngeluarin uang Rp2 triliun. Ini penasaran saya,” ujar Fahri Hamzah.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera ini menambahkan, pembayaran proyek e-KTP sampai dibuatkan adendum hingga sembilan kali dengan total Rp5,5 triliun. Fahri pun heran mengapa pengusaha ini bisa mengeluarkan uang hampir 50 persen dari nilai itu tetapi anggaran belum cair.

“Ini ada adendum. Ini adendumnya sembilan kali. Nilai kontrak sampai adendum ke-9, berubah dari Rp5,8 triliun menjadi Rp5,5 triliun. Yang telah dibayarkan ke konsorsium PNRI sebesar Rp5,4 triliun, terdiri atas lingkup pekerjaan tahun 2011 Rp1,8 triliun, tahun 2012 Rp3,4 triliun, tahun 2013 Rp829 miliar. Jadi tiga kali,” ujar Fahri.

Hal tersebut, kata Fahri berarti Andi Narogong belum menerima uang dari pembayaran proyek. “Tapi gimana cara orang ini ambil untung 50 persen. Ini yang bikin kita penasaran. Jadi ini ada orang yang luar biasa ini,” tuturnya.

din
Mohammad Nazaruddin

Dalam sidang lanjutan kasus ini, juga diungkap pemberian uang untuk Anas Urbaningrum dan Mohamad Nazaruddin. Dalam surat dakwaannya, Jaksa KPK menyebut pemberian uang dilakukan Andi Narogong pada kurun waktu September hingga Oktober 2010.

Baca Juga  Inilah Kesaksian Drajat Wisnu Setyawan, Anak Buah Gamawan Fauzi

Uang itu diduga diberikan kepada sejumlah anggota dewan dengan tujuan agar pembahasan anggaran e-KTP dapat dimuluskan oleh Komisi II DPR RI maupun Banggar DPR RI, salah satunya adalah kepada Anas. “Kepada Anas Urbaningrum melalui Eva Ompita Soraya US$500 ribu,” kata jaksa Irene Putri saat membacakan surat dakwaan.

Pemberian untuk Anas itu, bahkan disebut sebagai pemberian lanjutan sebab pada April 2010, Andi Narogong telah memberikan uang US$2 juta. Selanjutnya Khatibul Umam Wiranu sebesar US$400 ribu, Jafar Hafsah selaku Ketua Fraksi Partai Demokrat sebesar US$100 ribu.

 

Untuk Anas, Jaksa menyebut ada lagi pemberian dengan jumlah yang lebih besar yaitu US$3 juta. “Pada sekitar Oktober 2010 Andi Agustinus alias Andi Narogong memberikan uang US$3 juta kepada Anas Urbaningrum,” tutur jaksa Irene.

Kemudian uang juga diberikan kepada Arief Wibowo sebesar US$100 ribu, Chaeruman Harahap US$550 ribu, Ganjar Pranowo US$500 ribu, Agun Gunandjar US$1 juta, Mustokoweni US$400 ribu, Ignatyus Mulyono US$250 ribu, Taufik Effendi US$50 ribu, Teguh Juwarno US$100 ribu.*