SHARE
Para penyidik KPK tengah menjalankan tugas.

Penyidik KPK selama ini dikenal memiliki integritas tinggi. Mereka selalu berusaha untukm tidak terlibat atau menerima gratifikasi dari pihak tertentu. Hal ini tentu patut dipuji.

Namun sebagai manusia, tak selamanya penyidik KPK ini manusia setengah dewa. Terkadang sifat manusiawi mereka juga muncul sangat kuat sehingga bisa mengaburkan sifat malaikat yang seharusnya ada pada mereka.

Ini terbukti dari sikap Novel Baswedan yang memprotes rencana Direktur Penyidik KPK, Aris Budiman, untuk menambah penyidik dari luar KPK, misalnya Kepolisian. Padahal, dengan masuknya para penyidik dari kepolisian KPK akan memiliki banyak penyidik tangguh.

Makin banyaknya penyidik itu, tentu akan semakin meningkatkan kinerja KPK sendiri. Tentunya, ke depan akan makin banyak kasus-kasus korupsi yang bisa mereka tangani karena jumlah penyidik makin besar.

Akan tetapi bagi beberapa penyidik KPK lama atau senior, bisa jadi hal itu malah menganggu. Maklum, kerjaan mereka jadi berkurang dengan masuknya para penyidik baru. Praktis “Operasi” mereka di dalam KPK akan terganggu.

Sekali lagi, “operasi” ini terkiat sikap manusia yang menempel pada mereka. Salah satu buktinya adalah upaya mantan Ketua KPK, Abraham Samad, membuka kasus BLBI jika tak diajukan sebagai Wakil Presiden oleh PDIP. Samad memang ngebet ingin damping Jokowi, yang kala itu memimpin survey dalam pilpres.

Namun PDIP punya jurus membungkam Samad dengan menjebaknya saat mendekati PDIP.

Nah, kasus seperti Samad ini sebenarnya sudah jamak dilakukan oleh para penyidik KPK, tak terkecuali oleh penyidik yang baru saja terkena air keras di depan rumahnya.

Novel Baswedan sendiri sudah memprotes rencana penambahan penyidik baru di KPK. Makanya ia harus menerima surat peringatan yakni SP2 dari pimpinan KPK, yang dipimpin Agus Rahardjo.

Baca Juga  Hanura: Agus Rahardjo Harus Minta Maaf!

Novel yang dikenal sebagai “koordinator kasus” di KPK, selama ini menjadi kunci bagi para pemimpin KPK dalam membuka kasus, menjadi kepanjangan tangan serta sekaligus menyediakan amunisi mereka.

Namun peran Novel semakin hari semakin besar. Tak heran jika hal itu membuat gerah petinggi KPK. Hingga akhirnya dibuatlah rencana menyingkirkan Novel. Sebuah informasi dari orang dalam KPK menyebutkan, KPK sudah sejak awal 2016 berencana untuk “mempensiunkan” Novel Baswedan., KPK tidak lagi memakai jasa penyidik andalannya itu.

Jika Novel menghilang dari KPK, maka akan muncul era baru di tubuh komisi anti rasuah itu. Inilah sumber dan bibit perpecahan di KPK.  Fakta ini sekaligus membuktikan jika KPK sudah berpolitik dan menggunakan kasus-kasus tertentu untuk mendapatkan keuntungan dalam bentuk apapun.