SHARE
Muhammad Nazaruddin banyak menceritakan fiksi yang dianggap fakta oleh KPK.

Muhammad Nazarudddin, terpidana kasus korupsi Hambalang dan PON Riau ditengarai sudah stress. Segala perkataannya usdha tidak bisa lagi dipertanggungjawabakan. Bahkan sulituntuk mengenali mana perkataan Nazaruddin yang sebenarnya fakta atau sebaliknya fiksi.

Mantan bendahara Partai Demokrat yang dijadikan justice Collaborator itu sudah tidak kredible lagi. Ingatannya pun sudah pudar, apalagi untuk mengingat kejadian yang sudah berlalalu cukup lama, di atas lima tahun. Boleh dibilang Nazaruddin sering berhalusinasi atau membuat fiksi sendiri dalam kehidupannya.

Hal itu terungkap dalam persidang kasus korupsi e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (6/4/2017). Nazaruddin memberikan kesaksian jika dirinya pernah bertemu dengan  Setya Novanto dan Anas Urbaningrum karena ketiga anggota DPR itu dianggap sebagai representasi Partai Demokrat dan Golkar yang dapat mendorong Komisi II menyetujui anggaran KTP-E.

“Itu di Plaza Indonesia, Nazar tidak ada,” tambah Setnov.

“Dalam BAP saudara mengatakan kenal Nazaruddin dan pernah beberapa kali ketemu tapi karena dia yunior maka tidak bertemu di kantor namun pernah ketemu di luar, tapi tidak ingat pertemuannya kapan. Seingat saya pernah di Plaza Indonesia, ini betul?” tanya jaksa KPK Abdul Basir.

“Iya betul, waktu sedang jalan ada Nazaruddin, dan kami bertemu tapi tidak ngobrol,” jawab Setnov.

“Sama Anas bertemu di mana?” tanya Jaksa Basir.

“Di lain waktu tapi di Plaza Indonesia,” jawab Setnov.

“Membicarakan apa?” tanya jaksa Basir.

“Tidak ada, kami ketemu dan dadah-dadah (melambaikan tangan)saja,” jawab Setnov.

Namun pertemuan singkat dan tak berarti apa-apa itu justru sebaliknya dianggap pertemuan penting oleh Nazaruddin. Konon di situ mereka membicarakan urusan pekerjaan di luar gedung DPR. Namun baik Setnov maupun Anas Urbaningrum membantah adanya urusan seperti  itu di luar kantor.

Baca Juga  KPK Panggil Delapan Saksi untuk Sidang Kedua, Kamis

Akal sehat dan nalar hakim tentu dipaksa untuk mengikuti jawaban dari dua orang dibandingkan pernyataan satu orang yang tengah dalam kondisi stress dan tertekan. Sekali lagi ini bukti jika Nazaruddin banyak menceritakan hal-hal fiksi yang ia yakini sebagai fakta kepada KPK. Jika hal itu dianggap sebagai bukti, tentuproses perdilan di Indonesi menjadi sangat lemah, karena menjadikan fiksi sebagai fakta.