SHARE
Hubungan antara Jokowi dan JK sudah tak mesra lagi.

Kemenangan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, membuat Jusuf Kalla, girang. Pasalnya Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang didukung Jokowi, gagal menang.

Jusuf Kalla, bahkan langsung membuat gebrakan untuk menemui Saniaga di saat Jokowi sedang terluka akibat gagal mempertahankan Ahok sebagai Gubernur DKi Jakarta, lima tahun ke depan. Aksi yang dilakukan JK itu tentu saja diketahui dengan baik oleh Jokowi.

Persaingan antara Jokowi dan Jusuf Kalla dalam merangkul opini public memang sudah semakin jelas dan sering kali bergesekan. Hal ini semakin diperkuat dengan dukungan Partai Golkar kepada Jokowi yang membuat JK meradang.

Bahkan sudah menjadi rahasia umum, jika selama ini Jokowi sudah mengesampingkan peran Jusuf Kalla. Terakhir dalam rencana reshuffle cabinet terbaru, JK sama Sekali tak dimintai pendapatnya oleh Jokowi. Tak heran jika JK pun bengong dan terkaget-kaget saat Jokowi ingin mengumumkan pergantian beberapa menteri yang sudah tidak kapable di matanya.

JK yang langkahnya semakin tertinggal oleh Jokowi, berusaha untuk membuat gebrakan dengan mengusulkan pelengseran Setya Novanto dari kursi Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Ketua DPR RI. JK berharap langkah ini memunculkan isu baru dan menampilkan sosoknya masih ada di hadapan public.

Sayang hingga kini Setya Novanto belum mendapatkan apa pun dari KPK, kecuali persoalan cekal yang dilakukan oleh Komisi Antirasuah tersebut. Hanya saja penetapan cekal ini tak cukup untuk menggulingkan Setya Novanto dari posisinya sebagai Ketum Golkar dan Ketua DPR.

Sebaliknya soliditas di internal Partai Golkar makin terlihat. Pengurus inti dan pengurus harian Golkar tetap bersatu mendukung Setya Novanto dan tak menganggap usulan JK sebagai sesuatu yang harus diperhatikan.