SHARE

JAKARTA — Pengamat terorisme Noor Huda menyebutkan dalam dunia akademis terlebih bila lihat dari bagian ‘social movement’ atau ‘gerakan sosial’, jadi ramainya teror individu seperti bom panci yang meledak di Bandung ini adalah terjadinya pergeseran dari system grup (collective action) jadi system individu yang berkaitan karna persamaan inspirasi (connective action). Hal semacam ini bisa saja karna ramainya aplikasi dalam IT dari mulai YouTube, Telegram, Twitter, Facebook dan sebagainya.

” Jadi, dahulu orang mesti turut dahulu dalam jaringan teror baru ikut serta teror, saat ini cukup hanya sosial media dapat tersambung, ” tutur Noor Huda Ahad (9/7).

Noor Huda lalu menerangkan motif teror yang berlangsung belakangan ini. Motif teror pasti bermacam diawali dari menginginkan menyerang penolong atau kaki tangan aparat negara seperti polisi sampai penganut agama beda.

” Namun yang paling mendasar, bila kita saksikan latar belakang beberapa aktor, mereka ikut serta ini tidak dengan mendadak. Ada sistem yang diikuti dengan perubahan langkah fikir serta tingkah laku. Mereka bebrapa perlahan menarik diri dari kehidupan normal ” tuturnya.

Diluar itu, yang bisa dikerjakan oleh negara, kata Noor Huda, yaitu menggandeng orang-orang luas untuk ikut serta aktif mendeteksi dengan awal sistem perubahan beberapa orang ini. ” Pasti ini tidak gampang, karna siapa sangkakan seseorang penjual bakso mungkin saja teroris? Nah supaya lebih memahami, sistem mereka berikut butuh riset yang mendalam hingga kebijakan negara hadapi fenomena ini tidak asal-asalan, ” katanya.

Terlebih dulu, satu ledakan berlangsung dirumah kontrakan di Kampung Kubang Beureum RT 07 RW 11 Kelurahan Sekejati, Kecamatan Buah Batu, Kota Bandung, Sabtu (8/7) sekitaran jam 15. 30 WIB. Tempat tinggal kontrakan itu ditempati oleh sang aktor Agus Wiguna (22 th.) warga Kampung Cibelentuk, Desa Bojong, Kecamatan Bungbulang, Kabupaten Garut.