SHARE

Jakarta – Tubuh Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatatkan penurunan penyerapan jumlah tenaga kerja jadi 539. 457 orang dari realisasi investasi sejumlah Rp 336, 7 triliun selama semester I-2017. Keadaan ini dikarenakan tidak seimbangan trend susunan investasi, termasuk juga pelemahan penjualan di industri ritel.

Deputi Bagian Pengendalian Proses Penanaman Modal BKPM, Azhar Lubis, mengungkap, jumlah penyerapan tenaga kerja dalam kurun saat enam bulan pertama ini sejumlah 539. 457 orang. Realisasi itu turun di banding serapan di periode yang sama th. lantas sejumlah 681. 909 orang.

” Di kuartal II-2017, penyerapan tenaga kerja Indonesia sejumlah 345. 323 orang. Jumlah ini naik dari realisasi kuartal I sejumlah 194. 134 tenaga kerja yang terserap, ” tutur Azhar di kantornya, Jakarta, Rabu (26/7/2017).

Bila diliat ke belakang berdasar pada data BKPM, realisasi penyerapan tenaga kerja di kuartal I serta II th. ini lebih rendah dibanding dengan 2016. Pada kuartal I serta II-2016, penyerapan tenaga kerja semasing menjangkau 327. 170 orang serta 354. 739 orang

Kepala BKPM, Thomas Trikasih Lembong mengakui prihatin pada susunan investasi, terlebih pada keseimbangan pada investasi padat modal serta padat karya. Hal semacam ini dapat berlangsung karna beragam ketentuan yang masih tetap menghalangi investasi atau menyusahkan dunia usaha.

” Saya semakin prihatin dengan susunan investasi, terlebih keseimbangan padat modal serta padat karya. Bila kita tidak selekasnya perbaiki ketentuan yang dikeluhkan Presiden, mungkin nilai investasi naik selalu namun aktor usaha jadi kurangi tenaga kerja karena efisiensi, ” terangnya.

Lembong memberikan, ” Dari perolehan tujuan mungkin saja terwujud, namun dari maksud besar program ekonomi kita jadi kebalikannya. Angka investasi 100 % belum juga tingkatkan kesejahteraan orang-orang. ”

Kecemasan Lembong juga menyorot pada masalah industri ritel. Bekas Menteri Perdagangan itu menyebutkan, penjualan ritel sepanjang Hari Raya Idul Fitri lantas alami pelemahan atau penurunan, baik untuk penjualan pajakan, makanan hingga kembang api atau petasan.

” Saya begitu cemas ini (penurunan) ini jadi trend. Wah, dunia usaha menggeser investasi ke program atau fasilitas yang mempunyai tujuan efisiensi, kurangi ketergantungan pada tenaga kerja. Itu yang dapat buat customer hati-hati, tidak ingin banyak pengeluaran hingga penjualan ritel turun, ” kata Lembong.

Lembong juga menyikapi berkaitan penurunan harga komoditas di kuartal II-2017. Ia cemas trend ini juga akan berlanjut di kuartal III serta IV yang malah juga akan membebani perekonomian serta investasi Indonesia.

” Saya jujur prihatin serta cemas. Memanglah harga komoditas dari th. lantas hingga kuartal I ini ada kenaikan penting hingga 27 %. Untuk Indonesia yang masih tetap tergantung komoditas, keadaan ini menolong. Namun di kuartal II mulai turun sekali lagi, serta saya cemas trend penurunan ini berlanjut di kuartal III serta IV yang juga akan jadi beban untuk ekonomi serta investasi di Indonesia, ” tandas Lembong.