SHARE

Novel Baswedan sampai saat ini masih menjalani perawatan di Singapore General Hospital, Singapura.

Sudah 10 hari penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi itu dirawat di sana, setelah sebelumnya di RS Mitra Keluarga Kelapa Gading dan kemudian Jakarta Eye Center, pasca mendapat siraman air keras di bagian wajah dan matanya, 11 April lalu.

Diketahui jika biaya perawatan Novel Baswedan di Singapore General Hospital tersebut dibebankan kepada negara. Atau lebih tepatnya, pimpinan KPK yang meminta kepada Presiden Jokowi agar biaya perawatan Novel menjadi tanggungan negara.

bamsoet
Bambang Soesatyo

Sikap mengemis-emis pimpinan KPK kepada pemerintah untuk biaya perawatan Novel Baswedan ini mengundang kecaman anggota dewan. Mereka mengkritisi perilaku Agus Rahardjo dkk.

Komisi III DPR yang membawahi KPK tidak senang dengan permintaan KPK untuk meminta bantuan biaya pengobatan Novel ke pemerintah.

“Saya enggak senang saja ketua KPK mengirimkan surat ke Istana agar perawatan dibiayai negara. Emang penyidik KPK tidak diasuransi? Emang anggaran KPK tidak Cukup?” kata Bambang Soesatyo.

Wakil Ketua KPK Laode M Syarif menjelaskan, asuransi kesehatan bagi pimpinan dan penyidik KPK memiliki batas (limit). Bahkan, kata dia, perawatan Novel yang ditangani tim spesialis ke luar negeri tidak ditanggung oleh asuransi.

ode
Laode M Syarif

“Kami ingin jelaskan pertama asuransi pimpinan ada limit dan tim spesialis ke luar tidak tercover,” jelasnya.

Laode menyebut, informasi dari dokter RS di Singapura, penanganan medis atas insiden penyiraman air keras itu memakan waktu beberapa minggu. Sedangkan, untuk operasi pergantian kornea sebagai kemungkinan terburuk bisa menghabiskan biaya hingga Rp 400 juta.

“Terus terang saya tanya kalau seandainya kemungkinan terburuk sehingga menimbulkan operasi pergantian kornea berapa biayanya? Dia bilang satu kali tindakan 30-40 ribu SGD sekitar Rp 400 jutaan. Jadi memang berat kalau saya serahkan karena tidak ada untuk itu,” Laode menerangkan.

Baca Juga  Novel Baswedan Sebut Miryam Ditekan Koleganya di DPR
dwi
Dwi Ria Latifah

Anggota Komisi III Fraksi PDIP Dwi Ria Latifah menanyakan apakah Rumah Sakit di Indonesia, termasuk Jakarta Eye Center (JEC) tidak bisa menangani kasus Novel sehingga harus dibawa ke luar negeri.

“Apakah memang RS kita sudah angkat tangan tidak bisa menangani ini? Mengingat biaya besar dan waktu lama. Apakah RS di Indonesia sudah tidak ada yang mampu menangani kasus seperti Pak Novel?” tanya Dwi.

Laode menuturkan, dibawanya Novel ke RS di Singapura itu adalah rekomendasi dari dokter dari RS JEC. Pasalnya, RS Singapura memiliki stok kornea jika masalah mata Novel yang terkena air keras itu harus dioperasi.

“Pertama kami konsultasikan dari ahli di JEC. Saya katakan apakah ada yang lebih advance dia katakan dengan kami, bahwa yang bilang bagus teman saya di Singapura. Karena pertama persiapan kornea ada selalu di sini tidak ada,” tegas dia.

Alasan kedua, karena obat yang dibutuhkan Novel tidak tersedia di Indonesia. Obat yang dibutuhkan Novel adalah obat dengan pengawet dan sulit mendapatkan izin impor ke Indonesia.

Masinton Pasaribu

“Kedua tidak semua obat yang dibutuhkan Novel tidak ada di Jakarta. Pintarnya orang Indonesia ini operasi di Singapura tapi obat enggak ada. Sebagian obat yang diberikan pada Novel mengandung zat pengawet yang berkaitan kebakaran kimia tidak dianjurkan karena makin banyak ditetesin, ini akan merusak mata sebaiknya kalian pergi ke Singapura,” sambungnya.

Sementara, Anggota Komisi III Fraksi PDIP Masinton Pasaribu menegaskan, negara memiliki dana darurat untuk permasalahan seperti ini. Oleh karenanya, dia tidak ingin KPK meminta-minta ke Pemerintah.

“Nah ini masalah kemanusiaan. Bagi kita ini penting kalau kekurangan biaya pimpinan Komisi III sudah menyatakan ada dana kedaruratan. Pembangunan gedung seperti mengiba-iba. Ini institusi negara negara, negara cover itu,” ujarnya.