SHARE

Lagi-lagi Yorrys Raweyai. Yorrys lagi, Yorrys lagi. Demikianlah antara lain komentar masyarakat jika tengah bergosip tentang politik dan fokus pembicaraan tiba-tiba mengarah ke Yorrys Raweyai.

Frase Yorrys lagi, Yorrys lagi itu berkonotasi negatif. Ditelisik lebih jauh, memang agak susah juga mendapatkan perilaku positif dari Yorrys, khususnya menyangkut kiprahnya di politik.

Yorrys sesungguhnya sudah cukup lama menjadi pegiat politik, sebelum akhirnya menjadikan Partai Golkar sebagai pelabuhan pamungkasnya. Sebelum diberi kepercayaan sebagai Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan DPP Golkar dalam kepengurusan pimpinan Setya Novanto sekarang ini, Yorrys adalah ketua umum dari Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (PP AMPG), salah satu organisasi sayap Partai Golkar.

Jabatan ketum PP AMPG saat ini sudah beralih ke Fahd EL Fouz Arafiq. Namun, Yorrys masih menjadi pengendali utama di Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPP KSPSI).

Paparan ini tidak dikhususkan untuk menggambarkan totalitas kiprah dan kinerja dari seorang Yorrys Raweyai, politisi kelahiran Serui, Papua Barat, 28 Januari 1951 itu.

Yang jelas, menilik dari usianya yang sudah melebihi 66 tahun, wajar jika kedewasaan dalam berpolitik, berorganisasi dan bermasyarakat mestinya sudah sangat melakat padanya. Akan tetapi, Yorrys tak pernah sungguh-sungguh mendapatkan citra positif dalam berbagai aktivitasnya, termasuk juga perilakunya di Partai Golkar.

Yorrys sepertinya tak pernah ingin kehilangan momentum. Dia terkesan selalu mengikuti arah angin, mencari tempat atau posisi yang tepat untuk menguntungkan dirinya. Oleh karena itu Yorrys sepertinya terus “bermain” pada setiap dinamika atau interaksi yang terjadi di internal partai.

yorrysagung
Yorrys saat menjadi wakil ketua umum di kepengurusan Agung Laksono

Saat partai dilanda dualisme Yorrys mati-matian membela Agung Laksono, bahkan dipercaya menjadi salah satu wakil ketua umum. Belakangan, ia berganti haluan, merapat ke kubu Aburizal Bakrie. Agung Laksono kemudian memecatnya.

Baca Juga  Nusron Ingatkan, Fokus Golkar Menangkan Jokowi di 2019

Setelah diberi amanah dalam kengurusan pimpinan Setya Novanto, perilaku Yorrys sepertinya tidak berubah. Sebagian besar dari politisi di Senayan bilang, Yorrys memang selalu memanfaatkan momentum.

Ketika kasus dugaan korupsi pada proyek Kartu Tanda Penduduk berbasis elektronik (e-KTP) Kemendagri meledak, menyusul penyebutan nama-nama anggota dewan yang diduga terlibat di mana nama Setya Novanto ikut disebut-sebut, Yorrys justru menjadi orang pertama di internal Partai Golkar yang melontarkan wacana mengenai kemungkinan dilakukannya Munaslub.

yorisical
Yorrys setelah merapat ke Aburizal Bakrie

Alih-alih menyampaikan pernyataan yang menyejukan stakeholders partai secara keseluruhan, Yorrys malah sudah memberi kesan menusuk dari belakang.

Pernyataan Yorrys yang “semau gue” itu sempat memancing kegusaran di internal partai. Statemennya yang kontra-produktif langsung “dibabat” oleh para petinggi partai. Tak kurang dari Ketua Dewan Pembina Aburizal Bakrie yang langsung menegaskan, tak perlu ada Munaslub. Sebentar-sebentar Munaslub, kapan partai bisa benar-benar dewasanya.

Ketua Dewan Pakar Agung Laksono tak kalah tegas. Dia meminta internal partai tidak melontarkan pernyataan-pernyataan yang provokatif, yang hanya akan membingungkan masyarakat, khususnya pencinta Partai Golkar.

yorryslagi

Akan tetapi, mungkin bukan Yorrys namanya kalau dia langsung melempem. Buktinya, dia belum kapok juga untuk menyuarakan wacana Munaslub. Dua hari belakangan ini media kembali meramaikan komentar Yorrys mengenai kemungkinan segera ditetapkannya Setya Novanto sebagai tersangka dari dugaan keterlibatannya di kasus e-KTP Kemendagri.

Lho, lho, piye sih Yorrys. Bukannya menyampaikan pernyataan yang menyejukkan, atau bahkan memberikan dukungan moral kepada ketua umumnya, Yorrys sepertinya malah membuat suasana bertambah keruh. Pernyataan-pernyataannya tidak menyehatkan.

Apalagi, dalam kasus dugaan korupsi di e-KTP Kemendagri, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) masih melakukan telaah mendalam. KPK memang sudah memberlakukan pencegahan keluar negeri untuk Setya Novanto, tetapi bukan berarti Ketum Partai Golkar itu sudah benar-benar bersalah. Setya Novanto tidak pernah disebutkan sudah menerima aliran dana dari proyek e-KTP Kemendagri itu.

Baca Juga  Gamawan Fauzi Minta Dikutuk, Ini Kata Netizen

Tetapi, ya begitulah, Yorrys memang selalu kontroversial. Jadi wajar jika kalimat seperti di awal tulisan ini selalu dilontarkan oleh masyarakat. Yorrys lagi, Yorrys lagi.

Publik juga mungkin belum lupa dengan apa yang dilakukan oleh Yorrys lebih dari dua tahun silam, ketika dia–dalam kapasitasnya sebagai wakil ketua umum kepengurusan partai pimpinan Agung Laksono, menggeruduk ruang Fraksi Partai Golkar di bawah ketua umum Aburizal Bakrie.

geruduk1
Yorrys bersama kader Golkar pro Agung Laksono dan AMPG menggeruduk ruang rapat Fraksi Partai Golkar di Gedung DPR Senayan, 31 Maret 2015. Yorrys selalu terlibat dalam setiap kekisruhan dan kerusuhan di internal partai.

Peristiwa itu tepatnya terjadi pada Senin, 31 Maret 2015. Di ruang Fraksi Partai Golkar di lantai 10 Gedung DPR RI Senayan itu ada beberapa anggota dewan yang sedang melakukan pertemuan, diantaranya adalah Siti Hediati, alias Titiek Soeharto.

Sikap Yorrys itu dianggap sangat keterlaluan. Titiek Soeharto saat itu dikabarkan sempat menangis. Tidak salah jika kemudian ia melaporkan, mungkin lebih tepatnya menceritakan, kejadian itu kepada keluarganya, khususnya kakak-kakak dan adiknya.

Wajar kemudian kalau adiknya, si bungsu dari Keluarga Cendana,  Hutomo Mandala Putra, alias Tommy, kesal, marah dan meradang!

geruduk4
Ini salah satu momen dari penggerudukan ruang rapat Fraksi Partai Golkar pada 31 Maret 2015 yang menimbulkan suasana mencekam sehingga wajar jika Siti Hediati menjadi trauma.