SHARE

Empat tokoh mewakili empat agama memberi pandanganya pada Pancasila dalam Kuliah Umum Agama ” Mengukuhkan Pancasila, Menjaga Kebinekaan” yang di gelar oleh Fakultas Teologi Kampus Kristen Satya Wacana (UKSW), Sabtu (15/7/2017), di Balairung Kampus.

Ke-4 pembicara itu yaitu Dr Alwi A Shihab (Islam), Prof Pdt John A Titaley ThD (Kristen), Prof Dr Romo Franz Magnis Suseno SJ (Katolik). serta Prof Dr Drs I Nengah Duija MSi (Hindu).

Dalam kuliah umum itu, ke-4 pembicara setuju untuk mengukuhkan Pancasila serta menjaga kebinekaan di Indonesia. Alwi Shihab sebagai pembicara dari perspektif agama Islam menyatakan kalau Pancasila yaitu satu perjanjian umat beragama di Indonesia.

Menurut bekas Menteri Luar Negeri masa Presiden Abdurrahman Wahid ini, Pancasila yaitu titik temu dalam membangun Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta Pancasila tidak bertentangan dengan agama apa pun.

Ada fenomena beberapa grup yang menginginkan ganti ideologi Pancasila serta gosip yang lain yang meneror kebinekaan di Indonesia yaitu tantangan untuk bangsa sekarang ini. Untuk hadapi tantangan sekarang ini, Alwi Shihab menyebutkan kalau toleransi serta sama-sama menghormati jadi kuncinya.

” Dari perspektif Islam, memungkiri perjanjian yaitu ciri dari tingkah laku yg tidak Islami. Dengan kata beda, menjaga NKRI yaitu ciri Islam sejati, ” kata Alwi Shihab.

Seirama dengan Alwi Shihab, Magnis Suseno menyebutkan, Pancasila yaitu kemauan serta perjanjian bangsa Indonesia yang sangat mungkin bangsa ini hidup dengan dalam kemajemukan, dengan positif serta damai bersama membuat Indonesia.

Menurut pria yang sempat dianugerahi Bintang Mahaputra Paling utama oleh Pemerintah RI atas bebrapa layanan dia di bagian kebudayaan serta filsafat ini, dalam keadaan bangsa sekarang ini butuh penegasan kembali Pancasila dan kesejahteraan rakyat mesti diprioritaskan dalam pembangunan ekonomi, terkecuali juga pemberantasan korupsi.

Diluar itu, Magnis juga mengungkap perlunya komunikasi ramah serta terbuka antarumat beragama. ” Negara butuh tegas menindak semua kekerasan, ” katanya.

Ada banyak hal yang menurut Magnis butuh disetujui dengan supaya kehidupan beragama, diantaranya menampik kekerasan dalam semua bentuk serta atas nama agama. ” Kita beragama lewat cara yg tidak membuat mereka yang diluar terasa takut, serta menanggung kalau tak ada orang ataupun grup orang yang karna kepercayaan serta praktek religiusnya hidup dalam ketakutan, ” jelasanya.

Disamping itu, Rektor UKSW, John A Titaley menjelaskan kalau dalam ajaran Kristen di sampaikan kalau Tuhan inginkan kesetaraan manusia, oleh karena itu sikap menghormati semuanya manusia dengan setara yaitu kewajiban.

Seirama dengan Titaley, I Nengah Duija mengemukakan kalau bangsa ini juga akan aman bila seseorang penganut agama tidak berbuat tidak etis agama yang lain. Agama anugerah Tuhan dalam memiliki bentuk yang tidak sama yaitu kenyataan serta jalan tidak sama yang bebas untuk diambil oleh manusia.

Kuliah umum ini di buka oleh Dekan Fakultas Teologi UKSW Pdt Dr Retnowati MSi. Dalam sambutannya, Retnowati mengemukakan kalau topik ini diambil karna relevan dengan keadaan bangsa sekarang ini.

Kuliah umum ini mendatangkan empat pembicara yang mewakili empat agama di Indonesia yakni Islam, Kristen, Katolik serta Hindu. Acara ini dibarengi lebih dari 600 mahasiswa Pendidikan Agama serta orang-orang umum.