SHARE

BANDUNG — Menteri Penelitian Tehnologi serta Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir menyebutkan bahaya radikalisme menyeluruh ke semuanya kelompok orang-orang. Satu diantaranya potensi mengembangnya memahami radikal yang besar adalah di lingkungan universitas.

Nasir mengatakan universitas adalah wadah besar anak-anak muda yang tengah mencari ilmu dan pengetahuan. Karena itu potensi penebaran memahami radikal jadi terbuka lebar.

” Problem radikalisme di universitas belum juga dapat lihat dengan riil namun potensi di universitas begitu tinggi karna universitas itu himpunan anak muda. Universitas jadi tempat pengembangan ilmu dan pengetahuan hingga problem radikalisme miliki potensi besar, ” kata Nasir selesai menghadiri Deklarasi Anti Radikalisme Perguruan Tinggi Se-Jawa Barat di Kampus Padjadjaran (Unpad), Kota Bandung, Jumat (14/7).

Potensi ini dikatakannya sama besarnya pada perguruan tinggi negeri serta swasta. Memahami radikal mengarah generasi calon pemimpin bangsa berpemahaman yang menyimpang. Oleh karenanya, katanya, Kemenristekdikti serta pihak perguruan tinggi mempunyai peranan untuk mewaspadai serta menghadapi bahaya radikal dari lingkungan universitas. Satu diantaranya dengan selalu menanamkan nilai-nilai Pancasila serta UUD 1945, dan senantiasa mengaplikasikan semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam kehidupan keseharian untuk selalu terjaganya NKRI.

” Pengembangan ilmu dan pengetahuan di universitas silakan. Namun tetaplah melindungi yang namanya empat pilar kebangsaan. NKRI, Pancasila, UUD 1945, serta semboyan Bhineka Tunggal Ika, ” katanya.

Ke depan, Nasir menyebutkan pihaknya juga akan bekerja sama juga dengan Unit Kerja Presiden (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila untuk selalu menyosialisasikan pemahaman Pancasila untuk menghimpit memahami radikal berkembang. Ia juga menyatakan rektor perguruan tinggi bertanggungjawab pada potensi mengembangnya memahami radikal di lingkungan universitas. Sebab, rektor yaitu penanggungjawab dengan penuh semua aktivitas yang berada di universitas. ” Rektor yaitu CEO yang bertanggungjawab pada itu (radikalisme), ” ucapnya.

Oleh karena itu, ia mengapresiasi aktivitas Deklarasi Anti-Radikalisme Peguruan Tinggi Se-Jawa Barat. Hal semacam ini dinilai jadi prinsip serta langkah perguruan tinggi menghindar mengembangnya memahami radikal yang makin beresiko.