SHARE

Jakarta – Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait menyebutkan kondisi politik, sosial serta orang-orang sekarang ini butuh memperoleh perhatian. Hal semacam ini karena punya pengaruh pada terjadinya penanaman memahami radikalisme, intoleransi, kebencian, serta persekusi pada anak.

” Berbarengan dengan Hari Anak Nasional pasti kita menginginkan isi arti yang sebenarnya, jangan pernah cuma jadi seremoni saja. Kondisi politik, kondisi sosial, serta orang-orang sekarang ini butuh memperoleh perhatian karna mengorbankan anak-anak kita, ” kata Arist di Kantor Komnas PA, Jl TB Simatupang, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Senin, (17/7/2017).

Dia menyebutkan hal semacam ini dalam Konferensi Pers mengenai Sikap Komnas PA pada ramainya penanaman bebrapa memahami kebencian, kekerasan, intoleransi, serta persekusi di kelompok anak-anak Indonesia. Menurut dia ada beragam jenis bentuk penanaman hal itu seperti tingkah laku anak yang mem-bully anak beda, karna ada ketidaksamaan pemahaman ataupun agama.

” Anak-anak saat ini ditanam nilai yang dapat mengatakan satu grup spesifik, anak dimaksud kafir karna lain agama, lain pemahaman serta menghalangi maksud, misi serta visi grup spesifik. Diluar itu kenyataan beda juga memberikan satu dari empat anak di-bully karna agama, ” tutur Arist.

Ia juga menyebutkan banyak anak yang memperhitungkan agama dalam pilih rekan. Dan masih tetap ada memahami radikalisme, yang di ajarkan pada anak.

” 79, 05 % siswa memperhitungkan agama dalam pilih rekan, serta anak di ajarkan kebencian lewat cara melibatkan anak dalam aktivitas tindakan demonstrasi, aktivitas politik orang dewasa. Dan mengajarkan anak memahami radikalisme, untuk kebutuhan grup orang dewasa dengan bungkus jati diri agama, ” kata Arist.

Hal semacam ini menurut dia dapat dihindari dengan cara-cara, yang dapat dipakai untuk mencegah memahami radikalisme. Satu diantara lewat cara mengajarkan tenggang rasa pada anak, serta mengajarkan kalau ketidaksamaan adalah satu karunia.

Baca Juga  Pelajar di Tanjung Balai Terpapar Narkoba Sebersar 41,08 Persen

” Mengajarkan pada anak untuk mengaku kesamaan derajat, kesamaan hak asasi tiap-tiap manusia tanpa ada membeda-bedakan suku, keturunan, agama, keyakinan, warna kulit dsb. Dan sampaikan serta tanamkan pada anak kalau ketidaksamaan yaitu ciptaan tuhan serta jadi karunia, ” tutur Arist.

Orangtua juga bertindak perlu, dalam mendidik anak dari memahami radikalisme, kebencian serta intoleransi. Salah satunya, dengan memberi pendidikan keagamaan serta mengenalkan dengan arti pluralisme.

” Sempurnakan pendidikan keagamaan dalam keluarga, serta orangtua juga harus memperagakan keteladanan dalam keluarga. Lalu sampaikan pada anak mengenai nilai-nilai toleransi dan perkenalkan mulai sejak awal pada anak arti pluralisme, ” kata Arist.