SHARE

Di umur 7 th., biasanya, anak-anak mulai belajar di sekolah basic serta bermain dengan beberapa rekannya.

Berlainan dengan Jasmine Rohmania (7). Anak pasangan Roni Harjoko (37) serta Maryani (29) ini cuma dapat berbaring tanpa ada aktivitas apa pun.

Warga Padukuhan Sawah RT 06/RW 03, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, Yogyakarta itu menggunakan harinya dengan terbaring lemah, tidak dapat bergerak. Kadang-kadang ia tertawa saat bagian-bagian badannya disentuh.

Tetapi saat dilewatkan, ia cuma dapat buka mata serta tidak bergerak sekalipun. Maryani bercerita, kelahiran putri semata wayangnya ini lewat sistem normal. Tetapi ada tanda badannya tidak dapat digerakkan.

Dokter mendiagnosa anaknya menanggung derita Torch Cytomegalovirus atau torch CMV. Penyakit ini membuat semua badan Jasmine tidak dapat digerakan dari mulai ujung kepala sampai ujung kaki mulai sejak dia lahir.

Bahkan juga, untuk mengusir nyamuk yang menggigit badannya, dia cuma dapat menangis kesakitan. ” Dokter saat itu memperkirakan Jasmine cuma dapat bertahan 3 hari, ” ucapnya, Senin (10/7/2017).

Diluar itu, sekarang ini Jasmine menanggung derita penyakit radang paru-paru, epilepsi, sampai gizi jelek. Penyakit itu membuat keadaan Jasmine makin kronis.

Awalannya, sambung Maryani, sang anak di beri obat dari rumah sakit. Tetapi, karna tidak memerlihatkan perubahan, ia berpindah ke obat tradisionil.

Terlebih, pekerjaan suaminya jadi buruh dengan pendapatan tidak menentu, membuatnya susah menebus obat. Ditambah dianya tidak peroleh jaminan kesehatan maupun pertolongan dari pemerintah yang lain.

” Suami saya pernah membuat BPJS mandiri, namun mulai sejak januari 2017 tidak dapat membayar Rp 75. 000 perbulannya, karna pendapatan tidak menentu, ” tambah dia.

Juga waktu beli obat tradisionil, keluarga ini pernah hentikan sesaat pada bln. Mei lantas, karna terbatasnya cost. Satu botol obat seharga Rp 500. 000 untuk pemakaian 10-12 hari.

” Bapaknya jadi buruh bangunan cuma dapat bekerja bila ada yang memerlukan, ” katanya.

Keadaan itu diperparah dengan ekonomi keluarga yang demikian pas-pasan. Bahkan juga untuk pergi ke kamar mandi saja, keluarga ini sangat terpaksa menumpang ke kamar mandi saudara mereka yang ada di belakang tempat tinggal.