SHARE

Sudah sepekan berlalu, namun pihak kepolisian tampaknya masih belum menindak-lanjuti laporan pengaduan yang disampaikan Irvanto Hendra Pambudi Cahyo terhadap Jimmy Iskandar Tedjasusila, terkait kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP Kemendagri.

“Laporan tersebut masih kami coba dalami dan pelajari, untuk bisa ditentukan apakah bisa naik ke ke tahap penyelidikan atau tidak,” ungkap Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul.

Apa yang dikemukakan Kombes Martinus Sitompul tidak berbeda dengan pekan lalu, saat Irvanto Hendra Pambudi Cahyo yang keponakan Setya Novanto mengadukan Jimmy Iskandar Tedjasusila, alias Bobby, karena telah mencemarkan nama baiknya.

Irvanto Hendra Pambudi Cahyo melaporkan Bobby ke Bareskrim Polri, Kamis (27/4) pekan lalu. Laporan itu diterima Bareskrim dengan nomor TBL/382/IV/2017/Bareskrim. Menurut keterangan Kombes Martinus Sitompul, meski kasusnya dalam proses peradilan, pada prinsipnya Polri tidak boleh menolak laporan masyarakat.

tinusin
Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Martinus Sitompul.

“Prinsipnya begini, Polri tidak boleh menolak laporan dari masyarakat meski itu di dalam proses pengadilan,” ujarnya.

Bobby, dalam kesaksiannya di sidang e-KTP ini, dapat dikategorikan menfitnah Irvan. Bobby secara sengaja menyebut Irvan pernah berbicara soal jatah untuk Senayan terkait proyek pengadaan e-KTP. Irvan yang juga Direktur PT Mukarabi Sejahtera itu menyebut angka 7 persen untuk Senayan.

“Saya ngobrol-ngobrol santai dengan Irvan di ruangannya. Dia sempat bicara biayanya (e-KTP) gede banget. Saya tanya, berapa? Besar toh? Dia jawab 7 persen. Dia bilang buat Senayan,” ujar Bobby di persidangan.

Bobby merupakan anggota tim Fatmawati dari PT Java Trade Utama. Tim Fatmawati yang dibentuk Andi Agustinus alias Andi Narogong bertujuan untuk memuluskan proses lelang dan pelaksanaan pengadaan e-KTP demi kemenangan konsorsium PNRI.

“Tapi saya sendiri tak tahu Senayan siapa. Tapi itu ngobrol-ngobrol santai saja sambil nunggu dokumen selesai,” sambung Bobby.

Baca Juga  Tak Terima Namanya Dirusak, Mekeng Laporkan Andi Narogong ke Polisi
irvan
Persidangan kasus e-KTP dinilai makin tidak kondusif, sarat fitnah dan pembunuhan karakter

Hanya dalam perjalanan selanjutnya, nama Senayan itu seperti sepakat diarahkan pada figure Setya Novanto. Padahal tak ada kata-kata tentang Setya Novanto yang pernah disebutkan oleh Irvan selama ini. Bahkan kutipan tentang Senayan pun harus diklarifikasi karena mengacu pada namasuatu daerah. Bukan nama seseorang.

Hanya saja, dalam persidang-persidangan selanjutnya, Jaksa langsung mengasosiasikan Senayan tersebut dengan DPR. Bahkan Lebih celaka lagi dengan nama Setya Novanto. Pengiiringfan opini yang akhirnya menjadi fitnah tersebut yang kini tengah dilaporkan oleh Irvan.

Pengusaha muda itu mengaku tidak pernah menyebutkan kalimat tersebut. Sebaliknya Irvan kini meminta Bobby untuk mempertanggungjawabkan kalimat yang disebutkannya di pengadilan tersebut. Pada saat itu, jelas akan terbukti mana yang benar dan mana yang fitnah.

Bobby disebut melakukan dua kesalahan melalui keterangan yang disampaikannya di persidangan, yakbi fitnah dan pembunuhan karakter. Itu yang dirasakan oleh Irvanto Hendra Pambudi Cahyo. Dia merasa terus mendapatkan fitnah yang keji dan terstruktur. Bahkan KPK yang bekepentingan dalam sidang ini seakan mengamini fitnah tersebut.

Perlakuan yang tidak wajar dan fitnah itulah yang membuat Irvan hilang kesabaran. Terutama dengan adanya kesaksian dari Jimmy Iskandar Tedjasusila alias Bobby yang jauh dari kebenaran itu.