SHARE

Melakukan kebohongan besar. Fitnah keji. Pembunuhan karakter. Itulah tiga frase yang paling banyak disampaikan oleh sejumlah saksi yang sudah dihadirkan pada sidang dugaan kasus korupsi proyek e-KTP Kemendagri.

Perang kata-kata terus terjadi sejak persidangan kedua pada 16 Maret hingga sidang ke-6, Senin (4/4) kemarin.

Perang kata-kata, saling lempar tudingan, terjadi setelah tim jaksa penuntut umum dari KPK pada sidang pertama di PN Tipikor Jakarta, 9 Maret, melontarkan bom dakwaan untuk terdakwa Irman dan Sugiharto, dua mantan pejabat Kemendagri yang sudah menjadi terdakwa dari kasus ini.

Gamawan Fauzi, berkelit tak menerima duit sogokan e-KTP.
Gamawan Fauzi. Pemilik proyek

Pertarungan sepertinya akan makin seru jika tiba-tiba jaksa menampilkan pemeran utama dari kasus ini, siapa lagi kalau bukan Andi Agustinus alias Andi Narogong, pengusaha rekanan Kemendagri yang dikenal amat dekat dengan Gamawan Fauzi, Mendagri yang diusung PDI-P namun kemudian meloncat ke Partai Demokrat.

Andi Narogong sudah ditetapkan sebagai terdakwa ketiga pada kasus ini, setelah Irman dan Sugiharto. Ihwal keterlibatannya pada proyek e-KTP ini sedang didalami oleh KPK. Pemeriksaan intensif dari peran strategis Andi Narogong ini mudah diketahui dari adanya 11 saksi yang sudah dimintai keterangannya oleh penyidik KPK.

Andi Narogong bisa saja segera dijadikan saksi dari persidangan dengan terdakwa Irman dan Sugiharto yang sudah enam kali digelar di PN Tipikor Jakarta.

Bisa juga KPK menempatkan perkara Andi Narogong di jalur cepat, dengan menyidangkannya secara tersendiri. Hal ini bukannya tidak mungkin, karena Andi Narogong juga sudah dijadikan terdakwa.

guguk
Andi Narogong. Salah satu aktor utama

Bila itu yang terjadi maka pertarungan akan semakin seru, melalui perang kata-kata yang sangat mungkin sudah siap dihadapi oleh para aktor, yakni mereka yang disebut-sebut terlibat menerima aliran dana proyek e-KTP ini.

Baca Juga  Inilah Kesaksian Drajat Wisnu Setyawan, Anak Buah Gamawan Fauzi

Dari kesaksian yang sudah disampaikan seluruh tokoh yang disebut-sebut menerima aliran dari proyek e-KTP ini, Mohammad Nazaruddin dan Andi Narogong disimpulkan sebagai aktor utama kasus ini.

Nazaruddin aktor utamanya. Dia terus terlibat pada berbagai kasus. Dari balik jeruji besi pun dia bisa mengatur banyak proyek. Dia sekaligus pembuat fitnah keji. Demikian benang merah dari pernyataan beberapa tokoh yang sudah diperdengarkan kesaksiannya di PN Tipikor.

Mohammad Nazaruddin. Tuding Khotibul tak kembalikan uangnya

Nazaruddin mengakui bahwa dia mengenal secara dekat tokoh-tokoh yang disebut-sebut menerima aliran dana dari anggaran pengadaan e-KTP 2012-2012. Namun, itu ternyata hanya klaim Nazaruddin.

Khotibul Imam Wiranu, misalnya. Mantan kolega Nazaruddin di Partai Demokrat itu dituduh menerima 400.000 dolar.

Klaim Nazaruddin, pemberian uang tersebut tertulis dalam catatan staf keuangannya, Yulianis. Nazaruddin juga mengaku pernah berkomunikasi dengan Khatibul untuk menyampaikan bahwa uang itu telah diserahkan melalui seseorang bernama Yudi. Jika Khatibul gagal menjadi ketua umum GP Ansor, maka ia harus mengembalikan setengah dari uang yang diberikan.

Khatibul dengan tegas pun menyatakan bahwa pernyataan Nazaruddin merupakan kebohongan. Ia mengaku tak pernah berkomunikasi dengan Nazaruddin terkait pemberian uang tersebut.

wiranu
Khotibul Imam Wiranu. Nazaruddin penipu, katanya

Nazaruddin bohong besar, serang Khotibul. Ditegaskannya, ia tidak punya uang dan tidak dibantu siapa pun saat berupaya merebut kursi ketum GP Ansor. Dalam pemilihan itu, ia dapat 30 suara dari total 400 suara.

Khotibul mengatakan bahwa sejak awal dia tidak berambisi untuk terpilih. Jadi, tidak menang pun tak apa-apa, katanya.