SHARE
Theo, Setnov, Idrus Marham, Atau Akom
Theo, Setnov, Idrus Marham, Atau Akom

Ketum Partai Golkar Berikutnya?

Rapimnas Partai Golkar yang berlangsung Sabtu hingga Senin, 23-25 Januari di JCC, Senayan, menyetujui digelarnya musyawarah nasional luar biasa (munaslub) sebagai solusi dari dinamika yang terjadi sekarang ini.

Dengan demikian, munaslub mestinya menjadi arena untuk menetapkan kepengurusan Partai Golkar yang sahih. Masyarakat dan mayoritas fungsionaris Golkar memandang, kepengurusan Golkar yang sah adalah yang diketuai oleh Aburizal Bakrie.

Munaslub direncanakan digelar Juni 2016 mendatang, ancer-ancernya sebelum bulan puasa. Untuk itu, fungsionaris Golkar mengharapkan pemerintah sudah memberikan legal standing dari munaslub tersebut.

Aburizal Bakrie sudah mengatakan, tidak masalah jika peserta rapimnas menghendaki munaslub, walau akhirnya persetuan mengenai hal itu harus ditentukan olehnya. ARB bahkan menyatakan, ia tidak akan mencalonkan diri lagi menjadi ketua umum Partai Golkar. Seyogyanya demikian juga dengan Agung Laksono.

Peserta rapimnas merespon pernyataan terbuka dari ARB terkait kepastiannya untuk tidak ingin memimpin Partai Golkar lagi. Kalau ARB tak bersedia dicalonkan, Agung Laksono mestinya bersikap seperti itu pula.

Menyikapi pernyataan ARB tersebut, peserta rapimnas sudah langsung kasak-kusuk membicarakan siapa kandidat ketum Partai Golkar berikutnya. Banyak nama disebutkan, yang akhirnya mengerucut pada figur-figur terkenal seperti Theo Sambuaga, Setya Novanto, Idrus Marham dan Ade Komarudin.

Theo L Sambuaga adalah salah satu Ketua DPP versi Munas Riau dan Munas Bali. Setya Novanto, mantan Ketua DPR yang kini menjadi Ketua Fraksi Golkar di DPR. Idrus Marham, sekjen Partai Golkar Munas Riau dan munas Bali. Akom, akronim dari Ade Komaruddin, baru saja menjadi Ketua DPR, ganti posisi dengan Setya Novanto.

Bukan sekadar kebetulan jika keempat nama di atas sama-sama dekat dengan ARB. Namun, sementara ini mereka lebih banyak mengumbar senyum ketika pertanyaan tentang kesiapan menjadi pemimpin Partai Golkar berikutnya dilontarkan oleh kalangan media.

Mereka menolak berkomentar soal kemungkinan mencalonkan sebagai ketua umum Partai Golkar jika musyawarah nasional (munas) ataupun musyawarah nasional luar biasa (munaslub) akan dilaksanakan. Kata mereka, hal tersebut tak etis untuk dibahas karena belum ditegaskan bahwa munas akan digelar.

Artinya, tidak etis, belum diputuskan munas, tetapi sudah ancang-ancang mau nyalonin.