SHARE

LONDON — Sesudah peroleh jaminan spesifik dari pemerintah Inggris, Toyota diberitakan bersedia membagikan investasi modalnya sejumlah 310 juta dolar AS untuk membuat pabriknya di Inggris.

Pada 16 Maret lantas raksasa otomotif nomor wahid dunia itu dalam pernyataan tertulisnya juga akan membuat pabrik baru di jadi perluasa pabrik yang berada di lokasi Burnaston. Tetapi, satu sumber mengatakan Toyota tunda ketentuan itu hingga Desember yang akan datang, karna memperhitungkan efek keluarnya Inggris dari Uni Eropa.

Sumber itu juga menyebutkan surat sama juga telah di sampaikan Nissan th. lantas yang juga akan membuat dua jenis paling baru dipabrik mereka yang ada di utara Inggris. ” Mereka sudah terima surat yang sama dari Nissan berkaitan produksi kendaraan elektrik, dan prinsip membuat industri otomotif Inggris yang lebih kompetitif sekali lagi, ” kata sumber itu.

Seseorang sumber di Toyota malas berkomentar masalah itu. Tetapi ia mengatakan kebijakan masalah tarif, perdatangan bebas juga akan jadi aspek perlu untuk kesuksesan usaha di masa yang akan datang.

Pada bln. Maret lantas, pemerintah Inggris menyebutkan supportnya jika Toyota jadi menanamkan modalnya di negara itu. Sekarang ini Toyota sudah meguasai 10 % dari sekitaran 1, 7 juta kendaraan yang di produksi di Inggris. Toyota juga sudah keluarkan 21, 3 juta pound untuk penambahan kwalitas SDM, serta riset.

Dokumen itu sempat juga jadi sorotan kelompok pelaku bisnis serta politisi Inggris. Menteri perdagangan Inggris, Greg Clark th. lantas mengatakan jaminan sama mungkin diberi pada perusahaan beda. Tetapi, Clark malas mengemukakan surat yang diperuntukkan pada Nissan. Ia cuma mengatakan juga akan menginformasikan info itu sesudah tak ada sekali lagi yang pantas dirahasiakan.

Baik Nissan, Toyota ataupun Honda sudah kuasai sekitaran separuh industri otomotif di Inggris. Perdana menteri Shinzo Abe yang berjumpa Perdana Menteri Inggris, Theresa May, April lantas juga sudah memohon Inggris supaya tidak tergesa gesa keluar dari Uni Eropa supaya perusahaan Jepang di negara itu masih tetap dapat meneruskan usahanya.