SHARE

FILIPINA – Saran polisi Filipina untuk keluarkan kartu jati diri spesial untuk beberapa ribu Muslim jadi satu diantara langkah meredam terorisme, menyebabkan pro-kontra di negara dengan masyarakat sebagian besar Katolik itu.

Gagasan yang dibicarakan mulai minggu lantas oleh petinggi di lokasi Luzon Tengah dijelaskan jadi langkah kontra terorisme menyusul dikuasainya kota Malawi oleh grup militan Maute yang berafiliasi dengan ISIS.

Dalam dua bln. paling akhir, pemerintah menggempur kota Marawi sesudah grup Maute menggantikan kota di Filipina selatan itu.

Presien Rodgrigo Duterte mengaplikasikan undang-undang darurat di Mindanao serta mohon maaf sesudah menyalahkan masyarakat Marawi yang ia katakan mengizinkan beberapa simpatisan Maute masuk ke kota itu.

Aaron Aquino, polisi di Luzon Tengah -dengan sektiar 25. 000 masyarakat Muslim- menyebutkan KTP spesial ni butuh untuk mendata serta mengusir individu yang berkaitan dengan terorisme.

Aquino menyebutkan system yang sama sudah diaplikasikan di kota Paniqui serta juga akan ” direplikasikan di komune Muslim beda di semua lokasi hingga kita dengan gampang serta efektif bisa mengidentifikasi saudara-saudara Muslim kita. ”

Grup hak asasi manusia, Human Rights Watch menyebutkan kebijakan itu tidak mematuhi HAM untuk Muslim untuk memperoleh perlindungan yang sama juga dengan masyarakat beda.
” Memohon KTP spesial Muslim untuk menyikapi kegagalan Muslim menghindar grup Islamis masuk Marawi yaitu hukuman kolektif, ” kata grup yang bermarkas di New York ini.

Perparah kondisi

Gubernur Lokasi Otonomi Muslim Mindanau (ARMM) Mujiv Hataman menyebutkan langkah itu yaitu diskriminasi serta adalah ” preseden beresiko “.

Sesaat Zia Alonto Adiong, ketua komisi Krisis Manajemen Marawi, mengatakan jadi langkah Islamfobia.

” Jadi negara beradab, kita mesti menghindar langkah diskriminatif apa pun serta menegakkan hak fundamental dari bentuk diskriminasi, ”

Baca Juga  Perang di Marawi Akan Berdampak Panjang

Benturan pada pasukan pemerintah serta grup teroris di Marawi mengakibatkan Presiden Duterte mengambil keputusan semua Mindanau dalam keadaqan darurat mulai sejak tanggal 23 Mei kemarin.

Hataman juga menyebutkan system KTP spesial itu juga akan jadi parah kondisi serta bisa ” menyebabkan kemarahan anak-anak muda Muslim sebagai tujuan pererkrutan grup berlebihan “.

” Apabila kriteria itu berkaitan keamanan, jadi system KTP mesti diaplikasikan untuk semuanya masyarakat Filipina, tidak cuma Muslim, ” tuturnya.

Ia menyerukan dialog dengan petinggi keamanan untuk meninjau system yang pas dengan konstitusi.

Lewat sosial media, saran KTP spesial Muslim ini menyebabkan silang pendapat.

Akun di Facebook atas Lino Guchi España, mengatakan saran ini ” Diskriminatif!, Tidak semuanya Muslim teroris sama seperti tidak kebanyakan orang Kristen suci… Mari kita hargai saudara perempuan serta laki Muslim kita. ”

” Ini bukanlah semuanya mengenai hak asasi manusia, tetapi mengenai keamanan. System jati diri masyarakat tidak juga akan mengakibatkan kerusakan hak mu, ” kata pemakai beda Maricor Carimbaran Aborong.