SHARE
Setya Novanto, masih saja terus diganggu oleh mafia pers hitam.

Kesakian Muhammad Nazaruddin dalam kasus e-KTP, Senin (3/4/2017), di pengadilan Tipikor, Jakarta, memang terasa meringankan bagi Setya Novanto. Mantan bendahara Partai Demokrat itu menepis dugaan jika Ketua Umum Partai Golkar dan Ketua DPR RI, itu memiliki keterlibatan dalam kasus e-KTP.

Rupanya fakta yang dikemukakan oleh Nazaruddin tersebut membuat pihak KPK dan beberapa pihak gundah. Pasalnya upaya mereka mempolitisasi kasus ini untuk menjegal Setya Novanto rusak. Skenario untuk menjadikan Ketua DPR sebagai kambing hitam, tak mempan.

Hanya saja usaha untuk terus menggempur Setya Novanto dengan berbagai isu miring terus mereka lakukan. Salah satunya dengan munculnya pemberitaan yang kembali mengaitkan Setya Novanto dengan kasus e-KTP.

Beberapa media online seperti liputan6.com dan viva.co.id, berusaha untuk menghembuskan isu jika KPK memiliki bukti baru untuk Setya Novanto. Judul berita itu antara lain: KPK Kantongi Bukti Keterlibatan Setya Novanto dalam kasus e-KTP. Fachrur Rozie, adalah reporter dari liputan6.com yang membuat berita tersebut.

Dalam pemberitaan sama sekali tidak ada kutipan dari  pihak KPK mengenai keterlibatan Setya Novanto. Febri Diansyah, juru bicara KPK, hanya memberikan keterangan mengenai saksi-saksi dan bukti secara umum dalam kasus e-KTP. Sayang tingkat pemahaman Fachrur Rozie, yang sedemikian pendek, telah membuat berita seolah-olah nama Setya Novanto masih ada dalam lingkaran tersebut, meski sudah dibantah oleh Muhammad Nazaruddin.

Hal sama juga muncul dari viva.co.id, dalam berita yang berjudul KPK Kantongi Bukti Dugaan Suap E-KTP Setya Novanto, dimuat pada Selasa, 4 April 2017 pukul  14:53 WIB dan ditulis oleh Eko Priliawito, Syaefullah.

Konstruksi berita dua media itu sama persis, bahkan kutipan yang dari Febri pun sama. Besar kemungkinan dua berita ini memang sengaja diturunkan dengan maksud-maksud tertentu. Bahkan bisa jadi wartawan dari masing-masing media tersebut sudah mendapatkan rilis yang langsung mereka muat. Tentunya hal itu untuk menyudutkan Setya Novanto.

Baca Juga  Per Tahun Harus Bayar Utang Bunga Rp 7 Triliun, Jokowi Harus Dukung KPK Tuntaskan BLBI

Apa yang dilakukan oleh kedua media tersebut, dengan pembunuhan karakter Setya Novanto, tanpa memberikan hak jawab memang kurang pas. Namun sebagai media dan wartawan yang sudah dibeli oleh pihak-pihak tertentu guna menjatuhkan Setya Novanto maka segala sesuatu mereka lakukan guna menuruti “pengatur” mereka.

Sungguh disayangkan, hal-hal seperti ini masih saja terjadi di dunia pers Indonesia.