SHARE

Komisi Pemberantasan Korupsi  telah menjadwalkan pemeriksaan atas nama Pengacara Farhat Abbas sebagai saksi dalam penyidikan memberikan keterangan tidak benar atas nama tersangka Miryam S Haryani dalam persidangan perkara tindak pidana korupsi proyek KTP elektronik (e-KTP) atas nama terdakwa Irman dan Sugiharto.

Selain memeriksa Farhat Abbas, KPK juga dijadwalkan memeriksa kembali mantan Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri Diah Anggraeni dan Vidi Gunawan, dari swasta.

Miryam telah ditetapkan sebagai tersangka memberikan keterangan tidak benar dalam persidangan perkara tindak pidana korupsi proyek e-KTP atas nama terdakwa Irman dan Sugiharto di Pengadilan Tipikor, Jakarta. Miryam sendiri telah dua kali tidak memenuhi panggilan KPK untuk diperiksa sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

aga
Aga Khan, pengacara Miryam S Haryani

Sebelumnya, KPK menerima surat keterangan sakit dari Miryam melalui kuasa hukumnya, sehingga tidak memenuhi panggilan kedua dari KPK pada Selasa (18/4).

“Kami dapat surat dari kuasa hukum bahwa Miryam S Haryani sakit. Kemudian meminta penjadwalan ulang tanggal 26 April. Setelah kami cek surat keterangan istirahat dari dokter tanggal 18 dan 19 April,” begitu dikatakan jubir KPK, Febri Diansyah.

KPK tengah mempertimbangkan tindakan penyidikan yang akan diambil untuk Miryam S Haryani setelah dua kali tidak menghadiri pemeriksaan.

Soal Miryam yang meminta penjadwalan ulang pemeriksaan pada Rabu (26/4) mendatang, Febri menyatakan bahwa itu tergantung dari penyidik KPK. “Tentu saja penyidik memiliki jadwal sendiri dan punya strategi-strategi juga yang sudah diatur dalam proses penyidikan ini,” ucap Febri.

Aga Khan, pengacara Miryam, membenarkan bahwa kliennya itu meminta penundaan pemeriksaan dikarenakan sakit. “Penundaan pemeriksaan karena beliau sakit. Menurut surat keterangan dokter harus istirahat dua hari. Kami juga berkoordinasi dengan penyidik agar diberikan pengulangan pemeriksaan kembali tetapi penyidik belum bisa memastikan diterima atau tidaknya,” jelas Aga.

Baca Juga  Nama Gamawan Fauzi Lagi-Lagi Disebut oleh Saksi Kasus e-KTP
menangis
Miryam S Haryani

Miryam disangkakan melanggar Pasal 22 juncto Pasal 35 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Pasal tersebut mengatur mengenai orang yang sengaja tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang tidak benar dengan ancaman pidana paling lama 12 tahun dan denda paling banyak Rp600 juta.

Dalam persidangan pada Kamis (23/3) di Pengadilan Tipikor Jakarta, Miryam S Haryani mengaku diancam saat diperiksa penyidik terkait kasus korupsi proyek e-KTP, oleh karena itu ia mencabut BAP. “BAP isinya tidak benar semua karena saya diancam sama penyidik,” kata Miryam sambil menangis.

Dalam dakwaan atas nama terdakwa Irman dan Sugiharto itu, Miryam S Haryani disebut menerima uang 23 ribu dolar AS terkait proyek sebesar Rp5,95 triliun tersebut.