SHARE

Reshuffle menteri jilid kedua  memang masih jadi tanda tanya apakah akan segera diberlakukan atau tidak. Akan tetapi, meski pergantian menteri menjadi kewenangan tunggal atau hak prerogatif dari Presiden Joko Widodo, lebih banyak pihak yang meyakini bahwa reshuffle tersebut tidak sebatas isu.

Hal itu juga yang menjadi keyakinan dari mayoritas pembicara pada diskusi publik “Jokowi vs JK, Dalam Isu Reshuffle Kabinet Jilid II”, Jumat (8/1) di Warung Komando, kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Mayoritas dari pembicara tidak menutup-nutupi adanya rivalitas antara Presiden dan Wakil Presidennya.

Perseteruan antara Jokowi vs JK bahkan terus terjadi dan membayangi rencana pergantian menteri yang disebut-sebut segera diberlakukan dalam waktu dekat. Adhie Mulyana Massardi, koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB, termasuk pembicara yang paling vokal. Dari paparannya, JK cenderung unggul atas Jokowi.

Terakhir, JK mengungguli Jokowi dari Kasus Pelindo II, khususnya saat saat Dirut Pelindo II Richard Joost Lino lolos dari bidikan Kabareskrim Komjen Pol Budi Waseso. Lino selamat,  sementara Budi Waseso dimutasi ke Badan Narkotika Nasional (BNN).

“Ini semua by design, tidak ada yang kebetulan,” jelas Adhie Massardi, Namun menurutnya, posisi JK menjelang resuffle jilid II mulai terganggu. Terbukti, RJ Lino ditetapkan sebagai tersangka dan kontrak karya Freeport ditinjau kembali.

“Kita semua tahu, RJ Lino, dan  Menteri ESDM Sudirman Said punya relasi dengan JK. Kontrak Karya Freeport itu kalau tidak diributkan pasti sudah diperpanjang tanggal 10 Oktober,” tegasnya.

Meski begitu, sambung Adhie, JK masih bermanuver. Adhie menyebut Jusuf Kalla sengaja menyuruh Menteri PAN/RB, Yuddy Krisnandi mempublikasikan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kementerian/Lembaga/Badan untuk mengevaluasi kabinet.

Terbukti, sambung Adhie, Jokowi tidak memerintahkan Menteri Yuddy. Hal ini diperkuat dari pernyataan Sekretaris Kabinet Pramono Anung yang mengatakan tidak ada perintah dari Presiden Joko Widodo. Sementara JK menganggap biasa langkah Yuddy tersebut.