SHARE

Akhirnya terbukti jika apa yang dilakukan oleh Maroef Syamsuddin diikuti oleh orang lain. Sebagai pioner untuk melakukan perekaman ilegal, dia sukses. Langkahnya diikuti oleh salah satu anggota MKD, dalam sebuah siding tertutup, Senin (7/12/2015). Sebuah preseden yang sudah diperkirakan sejak awal. Maroef Syamsuddin bisa ditafsirkan berhasil mengininsiasi ‘homo homini lupus’–manusia memakan sesamanya.

Presdir Freeport Indonesia itu mungkin terbahak-bahak saat mengetahui ada anggota Mahkamah Kehormatan Dewan yang melakukan hal serupa saat persidangan MKD yang memperdengarkan kesaksian Ketua DPR RI, Setya Novanto.

Penyadapan ilegal yang dilakukan Maroef Syamsuddin pada pertemuannya dengan Ketua DPR RI, Setya Novanto dan pengusaha M. Riza Chalid, 8 Juni 2015 di Pasific Place, Hotel Ritz Carlton, menjadi pendorong atau memotivasi anggota MKD itu. Entah sudah direncanakan atau direkayasa sebelumnya, dan mungkin juga spontan, anggota MKD itu menyadap sebagian dari jalannya sidang, khususnya saat ketua DPR tengah menyampaikan pembelaannya.

Hasil sadapan berupa audio itu semula hanya ditayangkan di Metro TV. ‘Audio ekslusif’ tersebut langsung ditayangkan Metro TV pada saat jeda sidang, disebutkan berasal dari seorang anggota MKD yang identitasnya tak bisa disebutkan.

Tayangan ekslusif itu tak hanya menggemparkan gedung parlemen, akan tetapi juga dunia, karena disambut gegap gempita oleh netizen internasional. Taggar #MKDBobrok langsung menjadi trending-topic nomor satu dunia, sejak Senin petang hingga Selasa pagi. Bagai efek bola salju sadapan audio (suara) Ketua DPR juga ditayangkan oleh beberapa stasiun televisi lainnya pada Selasa.

MKD tentu saja geram. Mayoritas anggota MKD mempermasalahkan perekaman audio hasil sadapan itu. Keluarnya penyampaian keterangan dari arena persidangan yang dilakukan secara tertutup bisa dianggap sebagai pelanggaran undang-undang.

Pembahasan atau apa pun yang dibicarakan Yang Mulia anggota MKD di dalam sidang tertutup, juga pembahasan internal, tak boleh bocor keluar. Semua anggota MKD mengetahui hal itu. Oleh karena itu apa yang dilakukan anggota MKD asal Partai Nasdem Akbar Faisal yang memberikan keterangan kepada awak media dari keputusan rapat internal MKD patut disesalkan. Akbar Faisal kabarnya mendapat teguran dari pimpinan MKD.

MKD kabarnya akan menelisik siapa anggotanya yang melakukan penyadapan yang sekaligus pelanggaran atas undang-undang tersebut. Hal itu juga dianggap sebagai pelanggaran etik serius. Jika dikaitkan dengan Metro TV, yang pertama kali menayangkannya, pelaku perekaman ilegal itu bisa dituduhkan kepada Akbar Faisal, karena Metro TV dimiliki oleh Surya Paloh yang juga pendiri Partai Nasdem.

Ada dugaan bahwa perekaman ilegal yang dilakukan saat pembelaan Setya Novanto tersebut tampaknya juga dimaksudkan untuk semakin melemahkan posisi ketua DPR itu. Hal ini juga bisa dihubungkan dengan apa memori pembelaan yang disampaikan oleh Setya Novanto.

Dalam pembelaannya Setya Novanto selaku teradu, atau yang dilaporkan, mengatakan bahwa rekaman hasil penyadapan Presdir Freeport Maroef Syamsuddin tidak sesuai dengan perundang-undangan dan karenanya ilegal. Barang bukti ilegal tersebut mestinya tidak diterima oleh MKD.

Lantaran penyadapan yang dilakukan Maroef Syamsuddin ilegal dan melanggar hukum maka Setya Novanto juga tidak bisa memberikan keterangan apa pun.

Barang bukti berupa rekaman hasil sadapan yang diserahkan Maroef Syamsuddin kepada MKD bukan yang asli. Barang bukti berupa flashdisc rekaman percakapan sepanjang hampir 80 menit itu juga berbeda dengan yang diserahkan oleh Menteri ESDM Sudirman Said jauh sebelum sidang MKD dimulai. Sudirman Said transkip pembicaraan dan flashdisc, namun dari rekaman percakapan hanya sepanjang 12 menit.

Keterlibatan intensif pihak Kejaksaan Agung dinilai makin meningkatkan aroma misteri kasus ini. Barang bukti berupa telepon seluler merek Samsung yang dipergunakan oleh Maroef Syamsuddin berada di Kejaksaan Agung. Menurut keterangan pihak kejaksaan agung, Maroef Syamsuddin sendiri yang menyerahkan barang bukti tersebut, sehari sebelum dirut Freeport disidang MKD.

Saat dimintai keterangannya di sidang MKD Maroef Syamsuddin mengatakan bahwa seandainya diperlukan Barang Bukti tersebut bisa diambil dari kejaksaan. Namun saat itu MKD hanya memperdengarkan hasil sadapan yang sudah disalin ke flashdisc.

Hingga ke saat penyampaian pembelaan dari ketua DPR Setya Novanto barang bukti berupa telepon seluler tersebut masih belum diperoleh MKD. Apakah yang berada di kejaksaan agung itu benar-benar barang bukti otentik, juga masih bisa diperdebatkan. Bisa saja ada barang bukti yang lain, artinya penyadapan dilakukan dengan tidak menggunakan telepon seluler, tetapi alat perekam lain.

MKD mencoba mengusahakan barang bukti yang berada di Kejaksaan Agung bisa didapatkan sebelum mereka melanjutkan persidangan. Kasus ini diharapkan dituntaskan sebelum masa reses DPR, yang dimulai 18 Desember mendatang.

Aneh jika Kejaksaan Agung tiba-tiba bersikeras tidak akan menyerahkan barang bukti perekaman yang diserahkan oleh Maroef Syamsuddin. Hal ini bisa dianggap melecehkan wibawa MKD. Sekaligus tidak menganggap adanya kewenangan penuh dari MKD untuk menyelesaikan kasus ini.

Hal itu bisa menguatkan dugaan masyarakat bahwa Kejaksaan Agung memang sudah punya skenario tersendiri dalam keterlibatannya pada kasus ini. Kejaksaan Agung mencoba mengebiri atau setidaknya mengabaikan fungsi dan peran MKD sebagai institusi yang diatur oleh undang-undang untuk penyelesaian masalah-masalah dugaan pelanggaran etik anggota dewan.

Upaya Kejaksaan Agung untuk mempolitisasi kasus dugaan pelanggaran etik ketua DPR ini disesalkan banyak kalangan. Hal ini juga semakin menguatkan pandangan publik bahwa Setya Novanto berada di tengah pusaran konspirasi besar dan menyesatkan.

Konspirasi besar yang tak hanya mentargetkan Setya Novanto kehilangan kursi ketua DPR-nya, akan tetapi untuk semakin melemahkan sendi-sendi pemerintahan lainnya.

1 COMMENT

  1. sampeyan iku menyesatkan.
    ilegal ataupun enggak, SN melanggar etika. karena bertemu dengan org yg bukan kewenangannya.
    MKD tak bisa dipercaya. mereka mau menyelamatkan novanto. akbar faisal tak bisa tinggal diam. Dia mau membuka selebar lebarnya.
    Pakai logika anda bro. klo gk salah kenapa harus ditutup tutupi.