SHARE

maroef-lapor

Dalam kasus pidana alat bukti menjadi salah satu faktor terpenting dalam pengambilan keputusan hakim atau juri dalam sebuah kasus. Dalam kaidah hukum terdapat beberapa ketentuan yang mengatur soal alat bukti.

Saat ini, seiring berjalannya waktu, “exclusionary rules”  hanya digunakan untuk kasus pidana. “Exclusionary rules” juga tidak dipergunakan apabila seorang petugas yang melakukan penggeledahan dan penyitaan dengan itikad baik berdasarkan “warrant” dan kemudian hari ternyata “warrant” tersebut invalid atau terdapat kekeliruan.

Alat bukti yang sah menjadi faktor utama dalam perolehan alat bukti pada suatu kasus tindak pidana. Hubungan hukum yang kemudian melahirkan kewenangan untuk memperoleh alat bukti menjadi faktor penentu berkaitan sah atau tidaknya alat bukti yang diperoleh.

Dengan demikian, perekaman pembicaraan yang dilakukan tanpa hubungan hukum antara kewenangan perekaman dengan ini pembicaraan maka sama halnya dengan penyadapan tanpa izin yang justru merupakan tindak pidana.

Apabila hal tersebut  dianalogikan dengan CCTV sebagai alat perekam kegiatan, maka CCTV merupakan alat yang digunakan dalam kekuasaan teritori berkaitan dengan pelaksanaan atas kekuasaan teritori tersebut.  Dengan demikian, adalah salah ketika perekaman dianggap sebagai dua perbuatan yang serupa.

Perekaman Melawan Hukum

Merujuk pada kasus Setya Novanto, bahwa perekaman yang diambil oleh Maroef Sjamsoeddin jelas dilakukan tanpa hubungan hukum yang jelas. Karena itu, perekaman tersebut bertentangan dengan hak asasi manusia. Perekaman yang diambil tanpa adanya hubungan hukum, dan tiadanya dasar kewenangan untuk melakukan perekaman tersebut, justru akan berpotensi melawan hukum.

Hal ini dimungkinkan karena adanya kekeliruan persepsi antara obyek yang kemudian direkam dengan keadaan dimana rekaman itu diambil.  Pendapat di atas juga disuarakan oleh para pakar pidana yang sejak awal menyoroti kasus ini. Maroef Syamsoeddin telah melakukan tindakan yang bertentangan dengan konstruksi hukum. Yakni, merekam pembicarannya pada pertemuan dengan Setya Novanto dan pengusaha Mohammad Riza Chalid.