SHARE

Dalam kasus dugaan korupsi megaproyek e-KTP Kemendagri ini, terdeteksi adanya sudah adanya penyimpangan mulai dari proses anggaran, lelang, hingga pengadaannya.

Dari penyelidikan dan penyidikan yang dilakukan KPK, dua pejabat Kemendagri telah ditangkap dan ditahan.

Keduanya adalah Irman dan Sugiharto. Status mereka sudah dipecat dari Kemendagri, dan kini menjadi whistleblower buat KPK.

Irman, mantan Dirjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kemendagri, didakwa memperkaya diri sebesar Rp 2.371.250.000, USD 877.700, dan SGD 6.000.

Sugiharto, Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Kemendagri, memperkaya diri sejumlah USD 3.473.830.

Tentu jauh lebih besar lagi yang diterima oleh bos besar mereka, yakni Gamawan Fauzi, Mendagri 2009-2014.

Dana yang diterima Irman dan Sugiharto bahkan jauh lebih besar dari Diah Anggraini, sekjen Kemendagri.

kukukil

Diah Anggraini hanya mendapat 500.000 dolar AS, yang bahkan diakuinya sudah dikembalikan ke KPK.

Gamawan Fauzi menjadi tokoh kunci dan paling mengetahui keseluruhan proses terkait proyek e-KTP ini

Namun, Gamawan yang pernah 10 tahun menjadi Bupati Solok, Sumbar, dan penerima beberapa penghargaan antikorupsi itu, bersikeras tidak menerima duit e-KTP.

Percayakah kita? Sementara beberapa anak buahnya menerima dan mengakui, si bos besar bahkan berani bersumpah kalau sama sekali tidak menerima aliran dana e-KTP itu?

Gamawan Fauzi didakwa menerima dana paling besar dari anggaran tahun 2011-2012 proyek ini, yakni 4,5 juta dolar AS, disamping Rp 50 juta.

Akan tetapi, diantara keseluruhan saksi yang sudah dihadirkan di sidang e-KTP yang sudah digelar ke-8 kalinya, hanya Gamawan Fauzi yang sampai bersumpah-sumpah.

Ia bahkan berani menantang azab dengan menyebut siap dikutuk oleh rakyat seandainya menerima dana e-KTP satu rupiah pun.

Berani sekali!