SHARE

Isu reshuffle kabinet tinggal dalam hitungan hari. Semakin menguat kabar dari istana negara, bahwa Presiden Joko Widodo akan segera melakukan pergantian sejumlah menterinya pada 15 Januari ini. Tepatnya, hari Jumat.

Jika reshuffle jilid-II dari Kabinet Kerja tersebut benar-benar akan dilakukan beberapa hari kedepan, tepatnya Jumat, maka sangat mungkin publik akan merespon atau menyambutnya sebagai Jumat yang barokah.

Mengapa demikian? Hal ini tentunya tak bisa dilepaskan dari figur-figur menteri yang akan diganti. Presiden Jokowi tampaknya sulit untuk tidak mengedepankan pertimbangan masyarakat. Beberapa menteri atau pejabat setingkat menteri yang disebut-sebut harus diganti adalah “pilihan” masyarakat.

Ini termasuk jaksa agung. Posisi H.M.Prasetyo memang sudah lama rawan. Resistensinya makin terlihat saat ia cawe-cawe pada kasus penyadapan ilegal yang dilakukan oleh Presdir PT Freeport Indonesia Maroef Syamsoeddin, dalam pertemuannya dengan Ketua DPR (waktu itu) Setya Novanto dan pengusaha perminyakan Mohammad Riza Chalid, pada 8Juni 2015 di Jakarta.

H.M Prasetyo sudah buru-buru menyatakan bahwa pihaknya bisa menjerat Setya Novanto dan Riza Chalid dengan pasal Permufakatan Jahat. Pernyataan Jakgung ini langsung menuai badai, karena dinilai bernuansa politis. Masyarakat sudah lantas mengkaitkannya dengan keinginan Surya Paloh, yang pendiri dan Ketua Umum Partai Nasdem.

Secara umum, kinerja kejaksaan agung selama ini juga dinilai buruk. Tidak mengherankan jika institusi ini ditempatkan di posisi ke-76, atau terakhir, dari keseluruhan kementerian dan lembaga negara pada pemerintahan Jokowi-JK.

Selain kejaksaan agung, kementerian lainnya yang disebut-sebut akan terkena reshuffle adalah Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), dan Kementerian BUMN. Kemungkinan besar ada enam atau tujuh kementerian yang akan berganti pimpinan.

Sebagaimana pada isu reshufflle jilid-I sebelumnya, yakni pada Agustus 2015 , saat ini sudah beredar nama-nama para pengganti. Khusus untuk kejaksaan agung, HM Prasetyo disebut-sebut akan digantikan oleh Arminsyah, yang selama ini menjadi orang kedua di Kejakgung sebagai Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus).