SHARE

Canberra – Beberapa warga Canberra yang paling berani sudah berkompetisi merebutkan titel lidah paling kebal di kota itu karna berupaya menelan cabai pedas dengan tingkat kepedasan berjenjang yang disebut sisi dari Festival Kari Dunia Canberra.

Perayaan kari yang sudah masuk th. ke-3, ini sangatlah popular, dengan 40. 000 pengunjung diprediksikan mendatangi acara ini pada akhir minggu lantas (9/7/2017).

Suhu udara saat itu mungkin saja menembus angka 11 derajat celcius di pusat kota Canberra, namun udara panas betul-betul merasa dalam pertandingan, yang secara cepat jadi fokus perhatian paling utama untuk festival yang makin popular, ini.

Satu diantara peserta lomba, Tatsuya Kato, tidak gentar dengan rasa pedas cabai, namun ia tidak berhasil masuk ke final.

” Saya fikir biji serta airnya juga akan merasa pedas, jadi saya berupaya tidak untuk banyak mengunyahnya, namun kemudian saat ini perut saya rasa-rasanya seperti terbakar. ”

” Awalannya saya fikir, itu akan tidak sangat susah, karna sehari-hari saya tentu konsumsi makanan pedas. ”

” Dua cabai yang paling akhir, rasa-rasanya mengagumkan pedas. ”

Beberapa peserta lomba makan cabai ini dihidangkan sebagian type cabai terpedas didunia, termasuk juga cabai Scorpion Trinidad yang ditakuti.

Ketentuan untuk perlombaan ini sederhana : Tidak minum, peserta mesti menelan semua cabai dalam satu menit, serta tidak memuntahkannya.

Namun penyelenggara Festival Kari, Deepak Raj Gupta, menyebutkan, acara itu lebih dari sebatas mencari tahu siapa yang perutnya tahan dengan sengatan rasa pedas serta panas cabai.

” Ini yaitu th. ke-3 penyelenggaraan perlombaan ini serta Anda lihat jumlah pengunjung acara ini selalu jadi bertambah tiap-tiap tahunnya, ” tuturnya.

Baca Juga  Di Sydney, Diperkenalkan Aplikasi Berbagi Sepeda

” Ini yaitu langkah paling baik untuk menghangatkan diri pada musim dingin di Canberra – sedikit kari panas yang menghidupkan semangat.

” Ini seperti festival multikultural mini, melibatkan serta tunjukkan multikulturalisme di Canberra, yang begitu mengagumkan. “