SHARE
Novel Baswedan, penyidik KPK yang menjadi sasaran aksi balas dendam pihak tertentu.

Pengabdian Novel Baswedan kepada Komisi Pemberantasan Korupsi tak perlu diragukan lagi. Loyalitas dan totalitasnya kepada KPK adalah wujud dari kecintaannya yang luar biasa terhadap negeri ini, yang diimplementasikannya dalam bentuk dukungan habis-habisan untuk pemberantasan korupsi, salah satu penyakit kronis dan menular.

Novel Baswedan, yang kini terbaring lemah di ruang perawatan Jakarta Eye Centre pasca penyiraman air keras yang mengenai sebagian wajah dan matanya, Selasa (11/4) subuh kemarin, sangat jelas kalau sudah mematerikan sikap “no reserve” untuk institusi yang dibanggakannya ini, KPK.

“No reserve” berarti menempatkan KPK di atas segala-galanya. KPK tidak boleh dinomor-duakan. Kerja keras, all-out dalam menyelesaikan kasus per kasus korupsi, menjadi cermin dari tekad Novel Baswedan untuk membuat lembaga antirasuah ini semakin dibanggakan oleh masyarakat Indonesia.

seru
Novel Baswedan, sangat sederhana dalam kesehariannya.

Karena mengutamakan KPK pula Novel Baswedan harus rela meninggalkan institusi kepolisian yang membesarkannya. Ia legowo melepas seragam polisi yang sebenarnya amat dibanggakannya, untuk kemudian seterusnya mengenakkan pakaian sipil biasa, sebagai karyawan KPK. Sebuah pilihan yang mungkin sulit, tetapi Novel Baswedan tentu sudah memperhitungkan baik-buruknya.

Sulit membayangkan bagaimana suasana kebatinan, isi hati, dari seorang Novel Baswedan ini saat harus menanggalkan untuk seterusnya uniform kepolisian yang dicita-citakannya sedari kecil.

guguk6

Pengabdian luar biasa seorang Novel Baswedan kepada KPK ini mestinya menyenangkan KPK secara institusi. Namun, kesenangan itu tetap bersifat subyektif. Tak semua orang di KPK benar-benar merasa senang dengan keberadaan Novel Baswedan yang “no reserve” itu.

Kasus pemberian Surat Peringatan (SP) untuk kedua kalinya kepada Novel Baswedan, salah satu contohnya. Novel Baswedan menerima SP2 pada 21 Maret 2017 setelah ia, dalam kapasitasnya sebagai pimpinan Wadah Pegawai (semacam serikat pekerja/buruh di perusahaan) menyatakan keberatannya terhadap rencana Direktur Penyidik KPK Aris Budiman, yang juga berasal dari korps baju cokelat, yang akan merekrut seorang pamen polisi aktif sebagai kepala satuan tugas penyidikan KPK.

Baca Juga  Begini Curahan Hati Pegawai KPK Di 100 Hari Penyerangan Novel

Rencana Aris Budiman ini mengundang “kecaman” dari Novel Baswedan dan sebagian besar karyawan KPK yang tergabung dalam WP. Menariknya, ketika SP2 Novel Baswedan itu bocor ke tangan wartawan di tengah proses persidangan kasus e-KTP di PN Tipikor Jakarta, pimpinan KPK kemudian menarik kembali SP2 tersebut.

Bahasa yang dipakai oleh pimpinan KPK dalam penarikan SP2 Novel itu adalah “dibatalkan sementara”, bukan “dibatalkan”. Basaria Panjaitan, Wakil Ketua KPK dari unsur kepolisian, waktu itu mengatakan bahwa kasus bocornya SP2 Novel Baswedan itu ditangani oleh komisi pengawasan internal KPK.

riang
Basaria Panjaitan

Yang menarik, Basaria Panjaitan yang terakhir berpangkat Irjen Pol itu, sebelumnya bahkan mengaku tak tahu kalau Novel Baswedan diganajar SP2. “..Coba saya cek dulu,” demikian dikemukakannya setiap kali menjawab pertanyaan media terkait SP2 buat Novel Baswedan.

Paparan ini tidak dimaksudkan untuk menambah rumit keadaan dari kondisi yang tengah dialami Novel Baswedan sekarang ini. Walau demikian, masyarakat tetap perlu memahami dinamika yang terjadi pada penyidik utama dan senior dari KPK ini. Sangat wajar jika karenanya Novel mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat.

Tetapi mungkin juga terlalu naif dengan buru-buru menyimpulkan bahwa ada upaya-upaya tertentu dari pimpinan KPK sendiri untuk menyingkirkan Novel Baswedan. Sebab, di luar konteks penyiraman air keras yang sangat biadab terhadap Novel Baswedan pada Selasa (11/4) pagi kemarin itu, pimpinan KPK ternyata sudah pernah merencanakan untuk tidak memakai jasa Novel Baswedan lagi.

Sebuah informasi dari orang dalam KPK menyebutkan, KPK sudah sejak awal 2016 berencana untuk “mempersiunkan” Novel Baswedan. Artinya, KPK tidak lagi memakai jasa penyidik andalannya itu.

“Pengusiran” Novel Baswedan dari KPK disebut-sebut sebagai hasil lobi antara pimpinan KPK dan institusi penegak hukum lainnya. Konsekuensi itu diambil KPK setelah ditariknya berkas Novel Baswedan oleh kejaksaan, dari sebuah kasus krimininalitas yang diduga melibatkan Novel Baswedan.

Baca Juga  Inilah 5 Besar Kasus yang Ditangani Novel Naswedan

Dari penelusuran Nasionalisme.net, adalah Wakil Ketua KPK Saut Situmorang yang menyampaikan kabar bahwa KPK akan melepas Novel Baswedan. KPK akan memberi kesempatan seluas-luasnya bagi Novel Baswedan untuk berkembang di tempat lain di luar lembaga antirasuah ini.

saut
Saut Situmorang.

Dari dokumen yang diperoleh Nasionalisme.net, Saut Situmorang pada 4 Februari 2016 itu antara lain mengatakan bahwa Novel Baswedan itu fleksibel. Oleh sebab itu, diyakini akan bisa menyesuaikan diri di mana saja dan tetap relevan dengan keahliannya.

Kala itu Saut Situmorang juga mengatakan bahwa pimpinan KPK tengah memikirkan cara untuk menyelesaikan masalah tanpa memunculkan kegaduhan. Seiring ditariknya berkas perkara Novel oleh kejaksaan, maka sesuai dengan kesepakatan, Novel Baswedan harus hengkang dari KPK

Agar semua tuntas dan Novel Baswedan bisa mengabdi tanpa diikat oleh masa lalunya, itu kata Saut Situmorang juga.

Ada bantahan dari Saut Situmorang ketika disinggung bahwa “pengusiran’ Novel Baswedan tersebut adalah sebagai hasil lobi-lobi dengan Polri dan Kejaksaan Agung.

Bukan deal-deal, tapi pengembangan lapangan pengabdian anti korupsi buat Mas Novel Baswedan, agar bisa mengabdi lebih luas lagi di banyak tempat, itu alasan KPK.