SHARE
Lanjutan sidang kasus dugaan korupsi proyek e-KTP Kemendagri, Kamis (30/3) di PN Tipikor Jakarta, menghadirkan sejumlah saksi kunci. Namun, “bintang” dari jajaran saksi yang dihadirkan hari ini adalah Miryam S.Haryani.
Disebut bintang, karena kesaksian Miryam S.Haryani kembali menimbulkan kehebohan. Jika pada sidang Kamis (23/3) lalu ia mengaku ditekan penyidik KPK, pada sidang hari ini terungkap kalau ia pernah mengaku ditekan dan diancam oleh enam anggota dewan.
bamsoet
Bambang Soesatyo, Ketua Komisi III DPR
Terkait dengan pengakuannya diancam itu, Ketua Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo marah. Bamsoet bahkan berencana melaporkan Miryam S.Haryani ke Bareskrim.
“Kapan saya ketemu dan komunikasi dengan dia? Ngawur!” Bamsoet menegaskan.
Kemarahan juga disampaikan Aziz Syamsudddin, Syarifuddin Suding, Masinton Pasaribu, Desmond J.Mahesa, yang disebut-sebut ikut menekan Miryam S.Haryani agar tak memberikan keterangan kepada penyidik KPK.
akut
Miryam dihadirkan bersama tiga penyidik KPK
Sementara, soal pengakuan Miryam bahwa ia mendapat tekanan dari Novel Baswedan dkk saat diperiksa di gedung KPK, dibantah langsung oleh oleh Novel Baswedan dkk.
Novel membantah sejumlah pernyataan Miryam terkait pemeriksaan kasus e-KTP.
Miryam, kata Novel, diperiksa di lantai 4 Gedung KPK yang beralamat di Jalan Rasuna Said Kavling C1. “Di ruangan 24, itu bukan ruangan 2×2 (meter), itu ruangan standar. Dicek sekarang juga bisa,” katanya. Sebelumnya, Miryam bilang diperiksa di ruangan berukuran 2×2 meter.
Kemudian, Novel membantah makan durian sebelum memeriksa Miryam. “Saya makan roti isi duren, saya tidak tahu yang bersangkutan (Miryam) mabuk duren. Tapi waktu itu pemeriksaan telah selesai, kalau mengganggu secara pribadi itu tidak terkorelasi dengan keterangan yang telah diberikan bersangkutan (Miryam),” ujar Novel.
vekiu
Novel Baswedan: Miryam bohong
Ketika Novel makan roti tersebut, Miryam keluar ruangan. “Itu ruangan print dan lebih besar, dia (Miryam) duduk di sana, itu bukan lorong,” kata Novel.
Novel juga membantah Miryam muntah-muntah. “Kalau muntah pasti kelihatan dan pasti kami panggil dokter. Tidak benar yang bersangkutan (Miryam) sampai muntah-muntah,” katanya.
Selain itu, keterangan Miryam mengenai ibunya yang sakit parah, juga janggal. “Waktu itu keterangan soal orang tuanya sakit sepertinya berbeda, tidak ada itu,” kata Novel.
Ketua majelis hakim, Jhon Halasan Butar Butar, kemudian bertanya ke Miryam, karena pada persidangan Kamis sepekan sebelumnya, Miryamlah yang menyebut keterangan-keterangan yang dibantah Novel itu.
“Saya agak stres karena Novel bilang saya mau ditangkap tahun 2010, kan bikin down saya, saya kebayang anak saya,” kata Miryam.
jhon
Hakim Jhon Halasan Butar Butar
Miryam juga mengakui disodori kertas yang sudah tercetak kesaksiannya. “Isinya banyak mencantumkan orang-orang Golkar, saya bilang ‘Kok ini tidak seperti yang Bapak tanya ke saya’,” kata politisi Hanura itu.
Jhon kemudian bertanya apa yang salah, lantaran Miryam di pemeriksaan menjelaskan soal bagi-bagi uang e-KTP. Tapi Miryam berkukuh menjawab salah namun tak menjelaskan detailnya.
“Saya kurang tahu, mungkin sebelum membuat BAP (berita acara pemeriksaan) saya, beliau (Novel) nge-print yang salah,” kata Miryam yang kemudian menuding penyidik membuat BAP fiktif.
Jhon kemudian meminta Novel menjelaskan. Novel menjawab, kertas yang diperlihatkan kepada Miryam itu adalah keterangan Miryam sendiri.
“Kami sengaja setiap koreksi kami simpan untuk suatu saat bisa dilihat lagi, apakah ada nama-nama yang dimaksud itu (orang-orang Golkar). Koreksi dilakukan dengan kesadaran yang bersangkutan, jadi tidak logis ketika penyidik membuat BAP sendiri,” kata Novel.
Baca Juga  KPK Tunggu Penyerahan Miryam S Haryani