SHARE

Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Ahmad Riza Patria mengakui heran dengan hasrat pemerintah yang inginkan supaya besaran presidential threshold tetaplah pada 20 % kursi atau 25 % nada nasional.

Walau sebenarnya, dengan terdapatnya presidential threshold sebesar itu, jadi calon presiden yang keluar di Pemilu 2019 cuma sedikit, serta diprediksikan juga akan kembali bertemu dengan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto.

Demikian sebaliknya, bila presidential threshold sebesar 0 sampai 10 %, jadi calon presiden yang keluar semakin lebih banyak serta untungkan Presiden Jokowi bila akan mencalonkan diri kembali.

Jokowi dinilai mempunyai modal lebih dibanding calon yang lain, hingga nada beberapa pendukungnya lebih terkonsentrasi serta nada lawannya juga akan terpecah ke banyak calon.

” Kami sesungguhnya lebih suka head to head dengan Presiden Jokowi. Lebih suka. Dua calon lebih untungkan Jokowi serta Prabowo. Namun Prabowo katakan biarkanlah tokoh-tokoh beda keluar, ” kata Riza di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (11/7/2017).

” Incumbent harusnya di mana-mana suka bila calonnya banyak, ” lanjut Wakil Ketua Pansus Rancangan Undang-undang (RUU) Pemilu itu.

Oleh karenanya, ia mengharapkan pemerintah bersedia meninjau kembali saran presidential threshold sebesar 20 atau 25 %. Terlebih, kata Riza, pencapresan itu jadi lokasi partai politik atau paduan partai politik, bukanlah pemerintah.

” Biarkanlah parpol (partai politik) serta DPR yang kelola. berilah keleluasaan pada parpol serta DPR, ” lanjut dia.

Terlebih dulu, pemerintah dengan PDI-P, Nasdem, serta Golkar bersikeras dengan pilihan presidential threshold sebesar 20 atau 25 %. Sikap pemerintah yang ngotot juga dibarengi dengan partai yang lain yang inginkan presidential threshold dihapus atau cuma sebesar 10 sampai 15 %.