SHARE

Bareskrim Polri meningkatkan penyidikan masalah korupsi pengadaan uninterruptible power suplai (UPS) di 25 sekolah SMA/SMKN pada Suku Dinas Pendidikan Menengah Kota Administrasi Jakarta Barat dalam APBD Perubahan Th. 2014.

Dalam masalah ini, polisi sudah mengambil keputusan lima tersangka.

Terakhir, penyidik juga mengambil keputusan PT Offistarindo Adhiprima jadi tersangka dari korporasi.

” Dari beberapa Rp 130 miliar kerugian negara, Rp 61 miliar masuk ke perusahaan itu, ” tutur Martinus di komplek Mabes Polri, Jakarta, Kamis (20/7/3017).

PT Offistarindo Adhiprima adalah perusahaan pemenang tender pengadaan UPS.

Penyidik terlebih dulu sudah mengambil keputusan direktur paling utama perusahaan itu, Harry Lo, jadi tersangka.

Argumen penyidik menjerat korporasi jadi tersangka karna uang hasil korupsi itu digunakan untuk operasional perusahaan.

” Uangnya masuk ke aset perusahaan hingga untuk menarik kerugian negara butuh mengambil keputusan tersangka perusahaan, ” kata Martinus.

Penyidik sudah menyelesaikan penyidikan atas perusahaan itu. Berkasnya sudah dinyatakan komplit oleh kejaksaan serta tinggal menyerahkan tanda bukti dan tersangka korporasi ke penuntut umum.

Kasubdit V Direktorat Tipikor Bareskrim Polri Kombes Indarto menyebutkan, satu korporasi dapat dijerat bila perbuatan korupsi dikerjakan oleh pengurusnya.

Diluar itu, tindak pidana itu dikerjakan atas nama korporasi serta untuk kebutuhan korporasi.

Dengan mengambil keputusan tersangka korporasi, kata Indarto, jadi juga akan memudahkan dalam pemulihan aset.

” Supaya uang yang di ambil korporasi dapat di ambil sekali lagi oleh negara, jadi kita tracing aset perusahaan plus aset pengurusnya, ” kata Indarto.

Dalam masalah ini, dua tersangka salah satunya adalah anggota DPRD DKI Jakarta, yaitu Muhammad Firmanysah serta Fahmi Zulfikar.

Peranan Fahmi serta Firmasnyah dalam masalah ini jadi orang yang berniat memasukkan pos pengadaan UPS dalam rancangan Biaya Pendapatan serta Berbelanja Daerah Perubahan.

Walau sebenarnya, terlebih dulu tak ada rencana biaya karenanya.

Sesaat tiga tersangka yang lain, yakni Direktur Paling utama PT Offistarindo Adhiprima, Harry Lo, Kepala Seksi Fasilitas serta Prasarana Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat Alex Usman, dan Kepala Seksi Fasilitas serta Prasarana Suku Dinas Pendidikan Jakarta Menengah Jakarta Pusat Zaenal Soleman.