SHARE
Bel Kematian Kejaksaan Agung Sudah Berdentang
Bel Kematian Kejaksaan Agung Sudah Berdentang

Ibarat permainan tinju, bel kematian dari institusi Kejaksaan Agung sudah lama berdentang. Oleh karena itu, Korps Adhyaksa perlu segera diselamatkan. “Kalau tidak, supremasi hukum di NKRI akan semakin dipertanyakan,” ungkap Sya’roni, Sekjen Himpunan Masyarakat untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika).

Sya’roni mengamini pendapat publik, bahwa kinerja Kejaksaan Agung yang jauh dari memuaskan dan terindikasi politis sudah terprediksi sejak awal. “Publik dari mula sudah mempertanyakan, mempersoalkan dan meminta ketegasan Presiden Jokowi terkait penunjukkan kader Partai nasdem Muhammad Prasetyo sebagai Jaksa Agung itu.”

Sya’roni menegaskan, laporan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB) yang menunjukkan buruknya kinerja Kejaksaan Agung (Kejagung) sepanjang 2015, telah mengkonfirmasi kenyataan bahwa kepemimpinan M. Prasetyo selama ini memang tanpa gebrakan.

“Penolakan terhadap M. Prasetyo terjadi lantaran publik khawatir akan terjadinya intervensi parpol, dan sekarang kita semua tentunya sudah punya penilaian sendiri, bagaimana sesungguhnya memang buruknya kinerja M.Prasetyo itu,” kata Sya’roni kepada media, Munggu (31/1).

Menurut Sya’roni, keraguan publik mulai terbukti dari rentetan kasus besar yang ditangani Kejagung hingga kini belum ada yang sampai ke pengadilan. Lebih memprihatinkan, nama Jaksa Agung dikaitkan dengan kasus korupsi dana bantuan sosial Pemprov Sumatera Utara. Terakhir, M.Prasetyo juga dinilai ikut bermain dalam mempromisikan anaknya sebagai kepala intelijen di Kejati DKI Jaya.

“Jadi, benar, memang banyak kasus yang mencoreng institusi kejaksaan,” jelas Sya’roni. “Tidak ada jalan lain, publik jangan bosan untuk terus meminta keikhlasan Prasetyo agar bersedia melepas jabatan Jaksa Agung itu,” tegas Sya’roni.