SHARE

Tambang Grasberg adalah tambang paling menguntungkan di dunia. Pada akhir 2010, Freeport menghasilkan penjualan 6,72 miliar dollar AS atau sekitar 92,5 triliun rupiah untuk Freeport McMoRan. Jumlah tersebut jauh lebih besar dari APBD DKI Jakarta yang hanya sebesar 69,28 triliun rupiah!

Tambang itu juga menghasilkan laba kotor sebesar 4,17 miliar dollar AS pada akhir 2010. Cadangan tembaga  di Grassberg mencapai 33,7 juta pound dan emas mencapai 33,7 juta ons, selain sekitar 230.000 ton ore milled per hari. Luar biasa

Kekayaan tambang Grasberg, membuat setiap orang ingin mendapat keuntungan dari Freeport.  Asal tahu saja, banyak juga pebisnis lokal (Indonesia) yang turut mendapat keuntungan dari operasi tambang Grasberg tersebut.

Perusahaan-perusahaan lokal itu memang tak terjun langsung dalam operasi produksi. Akan tetapi mereka hanya menyediakan jasa, berupa penyedia jasa pelabuhan untuk bongkar-muat bahan tambang, jasa pemasok BBM, sampai pada jasa pemasok katering untuk ribuan karyawan Freeport Indonesia.

Untuk  urusan perut karyawannya Freeport menganggarkan Rp4,4 triliun per tahun. Untuk tahun ini  perusahaan catering milik Surya Paloh, Indo Cater memenangi proyek pengadaan makanan dan minuam untuk Freeport tersebut. Mereka menggantikan Pangan Sari Utama milik Bob Hasan.

Jika rata-rata bisnis jasa boga tersebut mengambil untung minimal 30 persen dari total nilai kontrak maka bisa dikatakan jika Indo Cater meraup untung sebesar 1,32 triliun rupiah per tahun. Nilai ini jauh lebih fantastis dari pendapatan iklan Metro Tv yang cenderung tekor jika dibandingkan biaya operasional televise tersebut.

Selanjutnya PT Ancora International Tbk (OKAS), salah satu anak perusahaan Ancora Grup yang didirikan Mantan Menteri Perdagangan Gita Wiryawan juga berbisnis dengan Freeport. OKAS menyediakan pasokan ammonium nitrate (bahan peledak) sebesar 40.000 ton tahun 2011 dan meraup pendapatan Rp 281 miliar dari Freeport.

PT Kuala Pelabuhan Indonesia (anak usaha PT Indika Energi Tbk) juga menyediakan jasa pelabuhan dan untung Rp233 miliar pada tahun 2011. Jika Smelter di bangun di Papua, bukan di Gresik, besar kemungkinan PT Kuala Pelabuhan Indonesia ini akan terkenda dampak dan kemungkinan tidak bisa membukukan keuntungan hingga ratusan miliar rupiah.

Ada pula Darma Henwa (Bakrie Group) yang mengantongi kontrak senilai 11 juta dollar AS untuk membangun dua terowongan 4,8 kilometer dan akses jalan 4.000 meter.

Semua perusahaan-perusahaan di atas adalah milik orang-orang kuat di Republik Indonesia. Freeport adalah bisnis orang kuat; politisi, penguasa partai politik dan pengusaha yang memiliki akses dekat dengan penguasa atau yang memiliki nilai tawar besar dengan pemerintah. Sehingga partai-partai pemenang pemilu atau partai pendukung pemerintah seperti berebut posisi tawar untuk mengajukan bisnis dengan Freeport.