SHARE

Majelis hakim yang mengadili perkara korupsi pengadaan Kartu Tanda Masyarakat berbasiskan elektronik (e-KTP) yakini kalau ke-2 terdakwa yaitu, Irman serta Sugiharto, sudah untungkan sendiri, orang yang lain serta korporasi.

Satu diantaranya, ke-2 terdakwa dipercaya untungkan pengacara Hotma Sitompoel sebesar 100. 000 dollar AS.

” Ke-2 terdakwa turut bertindak serta ketahui, hingga majelis memiliki pendapat beragam keuntungan yang didapat pihak beda memanglah jadi maksud beberapa terdakwa, ” tutur Hakim Anwar waktu membaca pertimbangan putusan di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (20/7/2017).

Hotma Sitompoel mengakui sudah menyerahkan uang 400. 000 dollar AS pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Uang itu datang dari project pengadaan e-KTP.

Hal tersebut disadari oleh Hotma waktu jadi saksi dalam sidang masalah korupsi pengadaan e-KTP di Pengadilan Tipikor Jakarta, Senin (8/5/2017).

” Telah dikembalikan pada KPK, ” tutur Hotma pada jaksa KPK.

Menurut Hotma, ia awalannya ditunjuk jadi pengacara untuk mengikuti petinggi Kementerian Dalam Negeri yang dilaporkan ke Polda Metro Jaya. Pelaporan itu berkaitan sistem lelang project e-KTP yang tengah berproses di Kemendagri.

Keinginan pendampingan hukum diserahkan oleh ke-2 terdakwa, Irman serta Sugiharto. Menurut Hotma, ia diperkenalkan dengan Irman serta Sugiharto oleh Ketua Komisi II DPR, Chairuman Harahap.

Menurut Hotma, sesudah lakukan pendampingan hukum, ia terima honor sebesar 400. 000 dollar AS serta Rp 150 juta.

Walau sekian, menurut Hotma, uang Rp 150 juta sampai sekarang ini masih tetap berada di kantornya. Waktu di check penyidik KPK, cuma uang 400. 000 dollar AS yang dimaksud berkaitan e-KTP.