SHARE

Pengaturan lokasi kumuh di Tambaklorok, Kota Semarang, Jawa Tengah selalu jalan. Bila tak ada rintangan, pada 7 Oktober 2017 yang akan datang, pengaturan step pertama berbentuk pengembangan drainase juga akan selesai semuanya.

Drainase di lokasi itu dibenahi karna tempatnya yang kumuh, tidak teratur, dan berlangsung pendangkalan saluran sungai. Pengaturan drainase diklaim juga akan membuat lokasi itu bebas dari banjir.

Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebutkan, paket pekerjaan drainase di saluran sungai di Tambaklorok telah menjangkau 87 %. Bangunan semuanya juga akan selesai pada Oktober yang akan datang.

Tetapi dalam realisasinya, kontraktor pelaksana terasa kesusahan karna beberapa tempat yang belum juga dibebaskan. Pihaknya juga menanggung juga akan menolong sistem pembebasan tempat warga yang belum juga selesai.

“Jadi barusan ada masalah sosial, serta itu cukup pelik. Pertama, jalur ke tempat digunakan warga untuk sunatan, nikahan, serta itu kelak dapat dikerjakan lewat kami (pemerintah), ” kata Hendrar, selesai meninjau pembangunan saluran drainase, Senin (10/7/2017).

Problem beda, sambung dia, masih tetap ada tempat warga yang belum juga dibebaskan. Selama ini, ada 52 bagian tanah yang belum juga terbayarkan, tetapi beberapa warga bersedia lahannya dipakai lebih dahulu sambil menanti sistem pencairan.

“Saya sekali lagi minta tempat yang akan dibayar berapakah yang menampik, itu kelak kita kumpulkan, juga akan diinvetarisir. Jadi tidak 52 bagian, ” imbuhnya.

Lokasi Tambaklorok sempat juga dikunjungi Presiden Joko Widodo, pada 2 Desember 2014 kemarin. Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan sebagian tokoh politik nasional juga sering berkunjung ke lokasi miskin di Kota Semarang ini.

Selama ini, lokasi itu masih tetap kumuh. Akses jalan menuju tempat pelelangan ikan juga rusak kronis serta belum juga teraspal. Keadaan diperparah karena jalan dipakai jadi pengangkut material project.

Konsultan project pengembangan drainase Tambaklorok, Nafis Imran mengakui tengah berburu saat untuk merampungkan project yang diharuskan selesai Oktober yang akan datang.

Ia memohon pemerintah menolong pembebasan tempat serta mengubahkan kapal-kapal nelayan dari lokasi project. Bila kapal dipindah, pekerjaan project juga akan menghemat saat sampai dua jam.

“Kami minta perahu sesaat clear sampai 50 mtr.. Itu menghemat saat kami kerja 2 jam setiap harinya atau 3 batang (paku bumi), ” tuturnya.

Berkaitan tehnis pembangunan, bangunan tidak alami masalah. Sejuah ini, semua material telah ada di lapangan.

“Sampai sekarang ini yang belum juga terpasang ada 1. 200 batang. Kelak 66 hari ke depan usai, tinggal kelak pembetonan. Problemnya masalah saat kontrak serta sosial. Bila masalah sosial ini yg tidak dapat diperkirakan, ” tuturnya.