SHARE

Hingga sidang ketiga kasus dugaan korupsi pada proyek e-KTP, Kamis (23/3) pekan lalu, majelis hakim PN Tipikor Jakarta dan tim jaksa penuntut umum KPK masih berkutat pada penjelasan saksi-saksi mengenai pembahasan dari proyek Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) tersebut.

Dari pendalaman penyampaian keterangan para saksi itulah KPK kemudian menangkap Andi Agustinus atau Andi Narogong, pengusaha yang menjadi salah satu rekanan di Kemendagri dan disebut-sebut memiliki hubungan baik dengan Mendagri (saat itu) Gamawan Fauzi.

Andi Narogong sebenarnya sudah menjadi bidikan KPK sedari awal. Dia bahkan sudah dicekal ke luar negeri. Penangkapannya pada Jumat, 24 Maret, dikait-kaitkan dengan segera habisnya tenggat masa pencekalannya yakni 28 Maret.

Andi Narogong saat ini masih mendekam di rumah tahanan KPK. Penangkapannya sekaligus menjadi titik balik dari proses hukum kasus e-KTP ini.

Menurut keterangan yang dihimpun Nasionalisme.net, untuk sidang keempat kasus e-KTP Kemendagri yang dilangsungkan Kamis (30//3) besok0, tim  jaksa KPK  semula ingin segera memperluas proses hukum kasus ini dengan semakin mengarahkan sasarannya pada kalangan anggota dewan.

basaria

Basaria Panjaitan

Dari penjelasan KPK  sebelumnya, setelah dua oknum Kemendagri dijadikan terdakwa, yakni Irman dan Sugiharto, lalu kemudian Andi Narogong, tersangka berikutnya adalah dari kalangan anggota DPR.

“Kluster pertama eksekutif, kedua swasta, dan kluster ketiga dari kalangan legislatif,” begitu diutarakan pimpinan KPK, Basaria Panjaitan.

Pasca penangkapan Andi Narogong, Jumat pekan lalu, bisa jadi kluster sasaran itu berubah.

Andi Narogong memang disebut-sebut dekat dengan sejumlah pimpinan DPR, akan tetapi tentunya memang lebih penting untuk menelisik darimana ia mendapatkan dana untuk dibagi-bagikan kepada banyak orang dari beragam latar belakang itu?

Kisaran dana 2 triliun rupiah yang dibagi-bagikan Andi Narogong tidaklah kecil.

Baca Juga  Ini Usaha KPK Mereka-reka Bukti Setnov

Dana itu berasal dari dana proyek e-KTP yang pastinya merupakan hasil penggelembungan atau mark-up.

kresek

Andi Narogong

KPK harus lebih jeli untuk mencermati keterangan Andi Narogong mengenai penyandang dana proyek e-KTP tersebut, sementara dana dari APBN yang dimintai melalui Kemendagri belum lagi cair.

Hanya mereka yang benar-benar punya kemampuan dana yang sangat kuat bisa meminjamkan dana talangan kepada Andi Narogong.

Apalagi, saat ditangkap, Andi Narogong sendiri masih punya simpanan lebih dari Rp 2 miliar yang kemudian dibawanya ke gedung KPK dalam kantong kresek hitam.

Luar biasa Andi Narogong ini.