SHARE

Paling tidak, 50. 000 warga sipil masih tetap terjerat di dalam peperangan, di tempat yang dikuasai grup teroris di Raqa, Suriah.

Instansi Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) untuk problem pengungsi UNHCR, juga memperingatkan kalau supply air serta keperluan yang lain di tempat itu semakin menipis.

” PBB memprediksi, pada 30. 000-50. 000 orang masih tetap terjerat di kota Raqa. ”

Sekian disibakkan Jurubicara UNHCR Andrej Mahecic di Jenewa, Swiss, Selasa (11/7/2017), seperti dikabarkan AFP.

Angka itu turun dari jumlah awal mulanya yang menjangkau 100. 000 orang pada akhir Juni.

Pasukan yang di dukung Amerika Serikat sudah mendekati titik paling akhir pertahanan grup teroris Negara Islam di Irak serta Suriah (ISIS).

Terlebih dulu, mulai sejak satu pekan lantas, pasukan pemerintah telah menembus tempat di kota tua itu.

Meski sekian, diprediksikan masih tetap ada 2. 500 teroris yang bertahan di lokasi itu.

Mahecic mengutamakan, susah untuk meyakinkan jumlah yang presisi, karna minimnya akses ke lokasi Raqa untuk sebagian tubuh PBB.

Tetapi dia meyakinkan, ketersediaan makanan, air, obat-obatan, listrik, serta keperluan yang lain sudah menyusut mencolok.

” Kondisi juga makin lebih buruk, ” kata Mahecic.

” Begitu perlu baagi warga sipil yang terjerat bisa temukan jalur yang aman -untuk memperoleh keselamatan, serta perlindungan. ”

Teroris ISIS menyerbu Raqa pada awal 2014, serta merubah kota utara jadi Ibu Kota ” de facto ” Suriah, untuk ” kekhalifahan ” mereka.

Dengan pertolongan dari koalisi pimpinan AS, aliansi pejuang Kurdi serta Arab yang dimaksud Pasukan Demokratik Suriah lakukan serangan sengit untuk mengusir ISIS dari kota.

Kota Raqa alami kesusahan air sepanjang sebagian minggu paling akhir, sesudah jaringan pipa yang ada rusak karena pengeboman berat.

Rusaknya itu juga disangka termasuk juga karena serangan pasukan koalisi AS.

Warga sipil yang alami dehidrasi karna musim panas bergegas ke sungai Efrat serta sumur darurat di sekitaran kota.

Mereka mempertaruhkan nyawa di dalam pertempuran yang makin bertambah.

Beberapa pegiat kemanusian mengakui sudah mendokumentasikan tanda penyakit yang disebarkan lewat air, karena meminum air sungai.

Warga pengungsi biasanya alami demam serta kehilangan kesadaran, sampai keluar kecemasan juga akan berlangsung problem kolera.

Jurubicara UNHCR menyebutkan, instansi itu sudah menyelesaikan pengiriman konvoi kemanusiaan pertama lewat jalan darat dari sekitaran Raqa ke Qamishli di timur laut Suriah.

Empat konvoi, yang sejumlah 22 truk, membawa tenda, selimut, jeriken, serta barang keperluan beda untuk beberapa pengungsi yang sudah menjangkau Qamishli.

Jalan itu terlebih dulu tertutup karena pertempuran sepanjang nyaris dua th..

Keadaan itu memaksa sebagian tubuh PBB memakai pengangkutan udara yang mahal, untuk mencapai 430. 000 pengungsi di sekitaran Raqa.