SHARE

Freeport dan pemerintah Indonesia belum sepakat soal masa berakhir kontrak karya penambangan emas, tembaga dan mineral di Timika itu. Sejak, kontrak karya pertama tersebut dimulai pada tahun 1967, kemudian beroperasi Freeport tahun 1973, kontrak karya pertama tersebut berdurasi 30 tahun.

Selanjutnya setelah ditemukan cadangan Grassberg kontrak karya kedua dilakukan pada tahun 1991. Kontrak karya kedua ini juga berdurasi 30 tahun dan akan berakhir tahun 2021. Namun masih ada kemungkinan untuk diperpanjang 2×10 tahun hingga tahun 2041.

Freeport pun secara tegas meminta perpanjangan kontrak itu sampai 2041. Sementara kontrak karya kedua yang akan berakhir pada 2021 belum disikapi secara gambling oleh pemerintah. Namun dua tahun sebelumnya, pembahasan soal kontrak itu bisa dilakukan antara Freeport dengan Pemerintah RI.

Divestasi saham menjadi isu yang sangat sentral jika berbicara masalah kontrak Freeport ke depan. Pemerintah Jokowi sudah memberi angina agar BUMN lebih berperan dalam proses perpanjangan kontrak hingga divestasi saham tersebut. Namun urusannya tak semudah itu.

Ruang bagi perusahaan milik negara seperti PT Aneka Tambang Tbk untuk mendapat saham yang didivestasikan Freeport Indonesia juga tertutup. Antam ditengarai tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli saham Freeport yang amat mahal itu.

Rencana pemerinhtah untuk memasukkan injeksi modal senilai 3 miliar dollar AS dalam APBN 2016, agar Antam memiliki modal untuk membeli saham Freeport masih terkendala. DPR tak sepakat dengan upaya pemerintah untuk menambah APBN 2016. Padahal, injeksi modal itu sangat penting bagi perusahaan milik negara untuk mendapat saham Freeport sehingga BUMN menjadi kuat. Aneh, ada keinginan maju justru dihambat tangan-tangan tertentu.

Sebaliknya pemerintah dan politisi cenderung mendivestasikan saham Freeport melalui penawaran saham perdana (initial public offering/IPO) di pasar modal. Jika ini benar-benar terjadi maka bisa dikatakan tak akan bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat, tetapi hanya untuk kesejahteraan politisi dan pemodal yang memiliki uang banyak dan memiliki akses ke bank untuk membeli saham Freeport.