SHARE

Maroef-SjamsoeddinMundurnya Maroedf Syamsoeddin dari jabatan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PT FI) tidak menyelesaikan permasalahan, apa yang sebenarnya tengah terjadi di perusahaan tambang terbesar di dunia asal Amerika Serikat itu. Harus dikakukan penyelidikan terhadap apa yang terjadi di PT FI tersebut.

Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah, mengemukakan, investigasi terhadap PT FI penting untuk mengetahui adanya kemungkinan “something wrong” di sana. “Ada permainan tingkat tinggi,” tegas Fahri Hamzah.

Marsda TNI AU (Purn) Maroef Syamsoeddin mundur dari posisi puncak di PT FI dengan alasan pribadi, sejak Senin (18/1). Pengunduran diri adik kandung dari mantan Pangdam Jaya dan Wakil Menhankam Letjen TNI (Purn) Sjafrie Syamsoeddin tersebut, hanya berselang satu bulan setelah resign-nya James “Bob” Moffet, Preskom PT FI yang juga CEO Freeport McMoRan ,Inc.

Adanya kemungkinan hubungan antara pengunduran diri keduanya, menjadi isu panas di kalangan komunitas pertambangan dunia. Jim Bob adalah mentor Maroef. Jim Bob pula yang “mati-matian” mengambil Maroef Syamsoeddin sebagai orang nomor satu di PT FI, setahun  silam.

Pengunduran diri Maroef Syamsoeddin juga menjadi polemik tersendiri karena dilakukan ditengah divestasi (penawaran) saham 10 persen PT FI kepada pemerintah Indonesia. Freeport telah mengajukan harga USD 1,75 miliar, atau lebih dari Rp 18 triliun. Sebagian kalangan menyebut, nilai divestasi 10 persen saham Freeport ini masih tinggi. Namun, sebagian menilainya “pas” atau bahkan terbilang murah.

Hal-hal seperti itulah yang merisaukan Fahri Hamzah. “Jadi itulah yang membuat kemunduran Maroef Syamsoeddin harus kita anggap penting untuk dilakukannya investigasi. Apa yang sedang terjadi di Freeport Indonesia?” demikian antara lain disampaikan Fahri Hamzah, Selasa (19/1).

Fahri Hamzah menuturkan, setelah mundurnya Maroef Sjamsoeddin harus ada pendalaman lebih lanjut terkait persoalan yang terjadi di tubuh Freeport. Apalagi, Desember sebelumnya Chairman dan Co-Founder Freeport McMoRan James R Moffett juga mengundurkan diri.

“Kartu apa yang lagi dimainkan? Ada kunjungan Dubes AS, lalu disusul pengunduran diri Jim Moffet. Sekarang Maroef Sjamsoeddin yang mundur. Dia dianggap sukses atau gagal?,” Fahri Hamzah mempertanyakan.

Menurut Fahri Hamzah, mundurnya dua pucuk pimpinan Freeport Indonesia tersebut merupakan peristiwa penting sehingga bisa dilakukan investigasi. Hal itu dilakukan sebelum pemerintah mengambil keputusan kelangsungan operasional tambang mereka di Timika, Papua.