SHARE

JAKARTA – Financial technology (fintech) eFishery ada jadi jalan keluar untuk beberapa petani ikan serta udang. Mulai sejak berdiri pada 2014, inovasi yang dibuat eFishery dinilai dapat menolong beberapa petani ikan lebih efektif dalam sistem budi daya.

VP Business Development eFishery, Dwi Andi Rohmantika mengungkap yang paling banyak mempunyai cost dalam budi daya ikan yakni masalah pakan. “Kami ini awalannya lihat problem itu jadi berfikir bagaimana beberapa petani ikan ini dapat lebih efektif serta efisien untuk memberi makan ikan, ” kata Dwi pada Republika. co. id di Kantor Menara by Kibar, Rabu (20/7).

Bila tidak keunggulan pakan, jadi petani ikan dapat lebih irit serta efektif untuk pengeluaran pakannya. Karenanya, kata Dwi, dia serta tim membuat eFishery jadi alat yang dapat mengatur pakan ikan sesuai sama keperluan.

Tidak cuma masalah keperluan, alat itu dapat juga sesuai dengan saat serta hasil yang dikehendaki petani ikan. “Misal bila petani ingin panen ikan di ukuran berapakah, alat ini dapat dipakai untuk berapakah kg kita ingin kasih makan agar sesuai sama serta tidak over feeding, ” katanya.

Sejak ia mulai meniti usaha fintech itu baru pada th. ini ia bekerjasama dengan BNVLabs yang disebut pusat inbukasi star up spesial fintech dari PT Kibar Kreasi Indonesia. BNVLabs dengan Bank Bukopin bahkan juga telah resmi meluncurkan tempat kerja atau coworking space di Menara by Kibar untuk fintech yang telah bekerjasama.

Tidak cuma masalah tempat saja, namun Dwi terasa dengan kerjasama itu, ia jadi pelaku bisnis fintech mempunyai jalan keluar beda. “Jadi kelak yang akan datang bila kami miliki inspirasi sekali lagi untuk petani ikan, dari sisi keuangan dapat terbantu masalah perbankannya karna BNVLabs bekerja bersama segera dengan bank, ” katanya.

Dwi mengaku sepanjang ia menggerakkan usaha fintech, masalah regulasi sampai perbankan masih tetap jadi masalah. Dia menyebutkan, terlebih dulu senantiasa berfikir apakah saat mempunyai inspirasi lantas tunggulah dahulu baru bergerak atau demikian sebaliknya. Karenanya sesudah kerjasama dengan BNVLabs jadi sesegera mungkin saja ada mentoring berkaitan regulasi sampai perbankan.

Ia juga mengaku begitu memerlukan support dari pihak yang tahu terlebih untuk masalah pembiayaan. “Soal payment itu kami begitu perlu. System juga sampai mentoring, apakah regulasinya ke Otoritas Layanan Keuangan atau Bank Indonesia, ” papar Dwi.

Disamping itu, Direktur Fintech Office Bank Indonesia, Yosamartha menerangkan beberapa pelaku bisnis fintech tidaklah perlu cemas. “Kalau kelak masalah keuangannya utang jadi regulasinya dengan OJK bila system pembayaran jadi dari BI regulatornya, ” kata Yosamartha.

Dengan ramainya usaha star up, Yosamartha menyebutkan bank harusnya tidaklah perlu tersaingi. Kerjasama dengan bank seperti yang dikerjakan BNVLabs dengan Bank Bukopin menurut dia telah jadi jalan keluar.

“Star up telah bukanlah ancaman sekali lagi sesungguhnya, dinamika dunia memanglah telah beralih. Inovasi dari usaha fintech yang tawarkan jalan keluar benar-benar sangat diperlukan untuk sekarang ini, ” papar Yoshamarta.

Direktur Pengembangan Usaha serta Tehnologi Info Bank Bukopin Adhi Brahmantya bahkan juga memberi sarana untuk meningkatkan beberapa pelaku bisnis fintech. Dua fintech paling baik yang bekerja sama juga dengan BNVLabs juga akan memperoleh peluang ke Silicon Valley untuk meningkatkan jaringan serta kekuatan lebih dalam.