SHARE

Probolinggo – Sidang dengan agenda pembacaan nota pembelaan pimpinan Dimas Kanjeng Patuh Pribadi yang sedianya berjalan Selasa, 11 Juli 2017, dipending. Argumennya, ketua majelis hakim mesti menghadiri halalbihalal di Pengadilan Tinggi Surabaya.

” Lalu untuk sidang dengan agenda pleidoi itu disetujui di gelar pada Rabu (12/7/2017), ” kata M. Sholeh, anggota tim kuasa hukum Patuh Pribadi, waktu di konfirmasi Liputan6. com, Selasa, 11 Juli 2017.

Dalam sidang terlebih dulu yang di gelar di Pengadilan Kraksaan, Probolinggo, jaksa penuntut umum (JPU) menuntut pimpinan Dimas Kanjeng Patuh Pribadi dengan hukuman pidana penjara seumur hidup dalam masalah pembunuhan serta penipuan berkedok penggandaan uang.

Sesaat berkaitan persiapan pembacaan pleidoi Dimas Kanjeng Patuh Pribadi, Muhammad Sholeh, menyebutkan telah mempersiapkan nota pembelaan untuk Patuh Pribadi. Pembacaan pleidoi juga akan diadakan di Pengadilan Negeri Kraksaan, Kabupaten Probolinggo.

” Kami juga siap 80 % serta hari Rabu kami yakinkan juga akan bacakan pleidoi itu, ” papar Sholeh.

Tentang tuntutan pidana seumur hidup jaksa penuntut umum, Sholeh mengatakan tuntutan itu tidak berdasarkan karna tidak satu juga saksi yang menyebutkan Patuh Pribadi yang memerintahkan pembunuhan, tetapi atas gagasan anak buah pimpinan Dimas Kanjeng semata.

JPU, ucap dia, mendasarkan cuma pada Berita Acara Kontrol (BAP), bukanlah pada info saksi. Walau sebenarnya, menurutnya, BAP itu cuma prosedur awal untuk mengambil keputusan apakah seorang diputuskan jadi saksi atau tersangka.

” Dalam tuntutan, datanya tidak datang dari info saksi dalam persidangan, namun info di berita acara kontrol (BAP). Jadinya lucu, ” tuturnya.

Ia menyayangkan waktu tindak pidana yang dikerjakan anak buah Dimas Kanjeng Patuh Pribadi, malah pimpinan yang disalahkan.

” Pidana itu kan pertanggungjawaban siapa yang lakukan, namun mengapa mesti pimpinannya dipersalahkan, ini kan bukanlah seperti korporasi, ” kata pria yang sempat mencalonkan diri jadi Bupati Sidoarjo di jalur berdiri sendiri itu.

Terlebih dulu, Kepolisian Daerah Jawa Timur menangkap Dimas Kanjeng Patuh Pribadi pada 22 September 2016 di padepokannya di Dusun Sumber Cengkelek, Desa Wangkal, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Penangkapan itu melibatkan beberapa ribu lebih personel karna pernah memperoleh perlawanan dari beberapa ribu pengikutnya. Pemimpin Padepokan Dimas Kanjeng itu dijatuhi Pasal 340 juncto Pasal 55 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengenai Pembunuhan Merencanakan atas kematian dua bekas pengikutnya, Abdul Ghani serta Ismail Hidayah.

Ke-2 bekas pengikut Patuh Pribadi itu dibunuh karna dipandang akan membongkar praktek penipuan, yang disangka digerakkan Patuh Pribadi yang bermodus penggandaan uang.

Patuh Pribadi disangka kuat bertindak menyuruh, menolong, serta memberi peluang pada beberapa orang, yaitu tersangka Wahyu Wijaya, Wahyudi, Kurniadi, Boiran, Muryat Subiyanto, Achmad Suryoo, Erik Yuliga Diriyanto, Anis Purwanto, serta Rahmad Dewaji untuk membunuh Abdul Ghani.

Terkecuali pembunuhan, pimpinan Dimas Kanjeng itu juga terlilit masalah penipuan. Masalah penipuan itu berdasar pada laporan korban atas nama Prayitno Supriadi, warga Jember. Bermula dari laporan itu, masalah pembunuhan tersingkap.